Anakku yang ketiga bernama Hafizh minta
padaku bahwa dia ingin begadang malam tanggal, 6 Juni 2016. “Bu, boleh ga
begadang, biar pas ada anak-anak berkeliling kampung sahur-sahur, Hafish bisa
ikut. Aku tidak mengomentari apa-apa,
anak berumur 8 tahun apa kuat untuk itu.
Ketika aku mulai masuk kamar Hafizh
bersama kedua abangnya Ziqri dan Nadzim masih menonton TV. Aku biarkan saja
mereka menunggu sahur pertama dan aku biarkan. Antusias mereka untuk menyambut
bulan Ramadhon ini sudah mereka ributkan dari pagi tanggal 5 Juni. “Makanan
untuk sahur apa, kalau sahur ibu kepengennya bangun jam berapa.”
Ternyata pukul 11.00 wib ketiga anakku
sudah tidak kedengaran, mereka bertiga sudah pindah ke kamarnya. Sudah tidak
kedengaran suara. Mereka sudah tertidur.
Menu sahur pertama kami adalah dendeng
kering, dengan buncis bumbu tauco, karena lauk favorit anak-anakku. Tidak sulit
bagiku untuk membangunkan mereka bertiga, karena mereka ingin melihat anak-anak
yang berkeliling kampung dengan membawa beberapa peralatan sebagai gendang
untuk meneriakkan sahur … sahur. Ternyata kelompok itu sudah bubar mereka mulai
berkeliling pukul 02.30 wib. “Yaaaa … kita telat deh.” Komentar si kecil.
Hari pertama puasa semua anak-anak libur
sekolah, termasuk aku juga libur bekerja. Suamiku mengajak ketiga anak
laki-lakiku ke mesjid untuk sholat subuh, sementara aku hanya sholat di rumah.
Aku membereskan rumah dan peralatan makan sahur tadi.
Menikmati libur,setelah selesai semua pekerjaan
rumah aku langsung tidur. Aku memilih tidur di kamar anak-anak di lantai atas
rumahku. Aku tidak ingin tidurku terganggu. Setiap hari kerja aku selalu bangun
pukul 3.30 untuk menyiapkan anak-anak sekolah dan sebelum pukul 06.00 aku sudah
berangkat bekerja. Jadi mumpung libur aku ingin menikmati tidur pagi.
Pukul 10.00 Hafizh membangukanku. “Bu,
ini nama teman-teman Hafizh yang diundang untuk berbuka bersama di rumah.”
“Apa, dek.” Aku masih bermalas-malasan aku sebenarnya aku tertidur hanya
sebentar saja. Aku tidak terbiasa tidur pagi.
Aku langsung duduk, “Kapan acara,”
tanyaku besok. “Besok, menunya nasi goreng, spageti, minumannya milo pakai es.”
Aku kaget, anakku itu tidak bertanya dulu kepadaku untuk mengadakan acara
bersama dengan teman-temannya di rumahku. Ada 9 orang teman-temannya yang dia
undang. Undangan yang dibuatnya itu dengan tulisan tangan, dan sudah dia
antarkan ke rumah teman-temannya dan dia juga menyebutkan menu-menu yang sudah
dia rancang.
Berarti acara berbuka itu akan dia adakan
hari Selasa, 7 Juli 2016, artinya aku besok sudah masuk kerja lagi. “Dedek, kok
gak tanya ibu dulu, besok ibu mesti kerja, walaupun hanya sembilan orang tambah
kita berlima menyiapkan itu tidak mudah. Ibu harus belanja, dan memasak.” Aku
tidak yakin acara buka bersama itu bisa dilakukan hari Selasa itu, karena tidak
ada yang akan membantuku untuk menyiapkannya.
“Dek, ibu tidak bisa kalau besok, ibu
sudah kerja dan untuk menu itu itu tidak bisa menyiapkannya sekarang, ganti aja
harinya.” Tapi Hafizh bersikukuh untuk melaksanakannya hari Selasa karena dia
sudah terlanjur memberikan undangan. Lama aku meyakinkan anakku itu untuk
mengundurkan acara berbuka bersamanya itu. Aku meyakinkan dia bahwa aku setuju
tapi hanya harinya saja mohon diundur.
Aku panggil ayahnya, karena aku dengar
dari pagi dia bersama anak-anaknya. Ternyata ayahnya tidak mengerti apa yang
sedang direncanakan Hafizh, berempat kita menjelaskan bahwa acara itu mesti
diundur. Akhirnya dia setuju. Dia pergi ke rumah teman-teman yang tadi sudah
dia bagi undangan. Dia menarik semua undangan yang sudah dia sebar kepada
mereka.
Ternyata undangan yang dia buat itu
sangat sederhana sekali dengan tulisan tangan, kertasnya dipotong tidak rapi
karena dipotongnya tidak menggunakan
gunting.
Aku minta tolong supaya abangnya yang
kedua, Nadzim membantu adiknya membuat undangan. Mereka mencari beberapa contoh
undangan di internet. Akhirnya mereka menemukan design undangannya. Acara
berbuka bersama itu disetujui hari Sabtu, 11 Juni 2016. Acaranya dimulai pukul
17.00 dan harus membawa peralatan sholat bagi anak perempuan dan laki-laki
cukup pakai celana panjang karena kita akan sholat magrib dulu.
Menu untuk acaranya kita sepakati lagi,
akhirnya di box nasi menunya nasi, ayam bumbu, kering tempe, kerupuk, timun,
dan jeruk. Aku buat batagor, Minumannya ada tiga macam, air kelapa muda, yang
diberi sirup merah, agar merah, dan biji selasih, dan satu lagi the es, dan air putih. Ada
bisuit, kurma, dan buah semangka .
Hafizh dan Nadzim sibuk menyiapkan
undangan, sementara aku sibuk menyipakan semua keperluan. Beberapa kali
sepulang kerja aku mampir ke pasar untuk membeli keperluan acara berbuka
bersama itu.
Mulai hari Jum’at mereka berdua sudah
mencetak undangan. Mereka mencatat kembali nama-nama anak yang direncanakan
awal itu. Aku melihat kedua anakku itu bolak balik mengantarkan undangannya.
Diprint satu lalu diantar. Aku biarkan saja. Aku lihat mereka sibuk sekali,
acara membagikan undangan berlanjut sampai hari Sabtu pagi. Ternyata nama-nama
yang akan diundang ditambah sekarang berjumah 13 orang, 5 orang perempuan dan 8
orang laki-laki, umur mereka hampir sama antara 8 – 10 tahun. Aku setuju saja,
aku hanya memberi syarat teman yang diundang harus puasa.
Ada temannya satu TK dengan Hafizh akan
dia undang rumahnya agak jauh dari rumah kami.
Aku setuju saja. Hafizh pergi sendiri mengantarkan undangannya, dia
bilang takut mau bilangnya karena temannya itu tidur dan yang ada abangnya.
Lumayan sibuk aku menyiapkannya. Aku di
dapur sendiri. Aku sudah mulai dari jam 08.00. Ternyata menyiapkan makanan
untuk 20 orang yang aku anggab mudah ternyata repot juga, aku akhirnya minta
pertolongan kepada anak pertamaku.
Hafizh dan Nadzim sudah membentang
karpet di teras. Aku berdua dengan si sulung memasukkan makanan yang sudah jadi
ke box dan memasukkan minuman ke gelas.
Pukul 16.00 semua anak-anak itu sudah
datang. Mereka sudah berkumpul di teras rumahku. Aku menjadi sedikit gugup. Aku
sampai berteriak memanggil kedua anakku itu, “Emang undangannya jam berapa,”
tanyaku. “Jam 5.” Jawab mereka. Aku
bersama si abang jadi sedikit terburu-buru. “Bu, akhirnya 15 orang yang datang,
tadinya Wibi tidak akan datang katanya mau latihan silat kita ganti dia dengan
Caca, terus satu lagi si Puput bawa adeknya, makanannya cukup gak.” Aku menyiapkan makanannya memang lebih. “Tenang aja.” Hafizh menjadi
panik karena aku sudah bilang, “Ibu menyiapkan sebanyak undangan yang kamu
bagi.”
Akhirnya pukul 17.00 semuanya rapi. Box
nasi dan batagor, dua macam minuman, aku tata di pojok teras. Air putih,
semangka, biscuit, serta kurma aku tata ditengah-tengah mereka duduk.
Aku bersiap-siap untuk mendampingi
mereka. Aku tidak ingin acara berbuka ini hanya untuk makan-makan saja, aku
maunya anak-anak itu diberi kesan yang aku yakin hal itu akan mereka ingat.
Aku menanyakan siapa yang tidak puasa,
ada dua orang si Caca dan adeknya Puput. Aku nasehati supaya besok harus puasa.
Aku menunjuk anak yang aku mau untuk menyebutkan rukun sholat, yang bisa menjawab aku beri hadiah biscuit.
Aku senang sekali melihat mereka antusias dengan apa yang aku lakukan. Ada yang
banyak dapat biskuitnya ada yang malu-malu. Anak yang belum dapat biscuit sama
sekali aku minta menyebutkan apa saja surat pendek yang dia sudah hafal. Akhirnya semua anak-anak kebagian hadiah
biscuit. Terakhir aku mengajak mereka
menyanyikan lagu “Kisah Sang Rasul” dengan suara cempreng mereka
menyanyikannya, semua anak-anak itu
sudah tahu lagu itu. Ini syairnya
Rohatil athyaru tasydu, fi
layaa lil maulidi,
wa bariqunnu riyabdu, min ma’aani Ahmadi
Wa bariqunnu riyabdu, min ma’aani Ahmadi
bi layaa lil maulidi
wa bariqunnu riyabdu, min ma’aani Ahmadi
Wa bariqunnu riyabdu, min ma’aani Ahmadi
bi layaa lil maulidi
Abdullah nama ayahnya
Aminah ibundanya
Abdul Muthallib kakeknya
Abu Thalib pamannya
Khadijah istri setia
Fathimah putri tercinta
Semua bernasab mulia
Dari Quraisy ternama..
Inilah Kisah Sang Rasul
yang penuh suka duka yang penuh Suka duka
Aminah ibundanya
Abdul Muthallib kakeknya
Abu Thalib pamannya
Khadijah istri setia
Fathimah putri tercinta
Semua bernasab mulia
Dari Quraisy ternama..
Inilah Kisah Sang Rasul
yang penuh suka duka yang penuh Suka duka
Baru sampai segitu syair lagu itu kami
nyanyikan, di mesjid sudah kedengaran bahwa waktunya berbuka sudah dekat. Aku
membagikan teh dan kurma untuk membatalkan puasa.
Setelah membatalkan puasa, kami sholat
berjama’ah. Anakku yang nomor dua azan, Hafizh khomat dan si sulung jadi imam.
Aku terharu sekali ketiga anakku bergantian memimpin doa seperti yang biasa
kami lakukan. Aku bertambah senang sekali ketika anakku yang kedua memimpin
doa, karena doa dia itu adalah doa yang belum pernah aku dengar.
Aku membagikan semua makanan itu kepada
anak-anak. Aku bilang kalau yakin akan habis semua makanannya makan di sini
saja dan kalau tidak boleh dibawa pulang. Semua anak-anak dapat dua box dan
satu minuman es kelapa. Hanya satu orang yang makan di sini, yang lainnya
membawanya pulang.
Setelah acara usai kami berempat
membersihkan teras yang berantakan. Ketika aku ke dapur setelah membesihkan
teras, ternyata dapurku berantakan sekali. Aku bingung mau mulai bersihkannya
dari mana, tapi aku sangat bahagia sekali bisa membuat anak-anak senang, inilah
Ramadhon terbaik yang pernah aku lakukan dalam hidupku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar