Aku yang mencoba memberanikan diri menapak jalan
untuk kehidupanku. Aku memutuskan untuk hidup berjarak dengan orang tua dan
semua keluarga besarku. Aku masih galau dengan pilihanku tetapi aku mecoba
berpura-pura berani dihadapan semua keluarga besarku untuk hidup sendiri di
kota lain.
Tubuhku masih terlalu kecil untuk hidup di tempat
kos yang sempit, tetapi akhirnya aku menemukan sebuah tempat tinggal yang aman
dan nyaman untuk gadis kecil yang baru beranjak remaja.
Hari pertama aku sekolah tidak ada yang mengantarku.
Aku sedikit gamang, tidak satupun dari orang yang ada di sekolah baruku ini
yang aku kenal. Aku berusaha menyebar pandangan ke seluruh penjuru sekolah mencari
seseorang yang mungkin aku kenal atau dia mengenalku. Ternyata tidak ada
satupun dari mereka yang aku kenal.
Aku menguatkan hati dan diriku, akhirnya aku
menemukan namaku ada di kelas 1.b. Aku menemukan tempat berbaris kelas 1.b. Aku
mulai tenang ini adalah tempatku. Aku masuk kedalam barisan, aku dapat barisan
di tengah-tengah.
Aku mendengar ada suara
yang aku rasakan tertuju kepada diriku. Suara itu mengomentari penampilanku
yang bergaya culun. Ekor kuda, pasti ada
kutunya itu kalau rambut sepanjang itu, baunya pasti apek. Ada beberapa orang yang tertawa mendengar
penghinaannya. Telingaku menangkap suara yang sama melontarkan penghinaan
bertubi-tubi padaku.
Aku yakin hinaa yang baru saja aku
dengar ditujukan buatku. Barisan untuk anak perempuan akulah yang berada
dibarisan paling belakang tidak ada perempuan lain di belakangku, dalam barisan
juga tidak ada satupun cewek yang rambutnya diikat seperti ekor kuda, seperti
rambutku. Rambutku memang sangat panjang sekali sampai ke panggulku.
Aku tidak tahu seperti apa wajah suara yang
menghinaku itu, aku yakin suara itu ada dalam barisanku. Suara itu adalah milik
laki-laki.
Aku merasa sakit hati dihina ketika dikatakan
rambutku ada kutunya dan bau apek. Aku sebenarnya ingin membalasnya untuk
mencari kutu di rambutku, kalau dia dapat akan kubayar berapa yang dia temukan
akan aku bayar sebanyak itu. Amarah hatiku mengatakan seperti itu, tetapi
akuberusaha sekuat tenaga untuk tenang, aku sadar tidak ada satu seorangpun di
sekolah ini yang aku kenal. Hari ini aku juga tidak bersama ayah, ibu atau
abangku yang mengantarkan.
Aku sudah berkomitmen untuk tidak cengeng, karena
waktu itu belum ada telpon apalagi handphone. Aku sendiri yang meminta untuk
sekolah jauh.
Perasaan marah pada suara yang menghinaku bergejolah
di hatiku. Aku berusaha keras menekan rasa marahku. Waktu SMP dulu aku terkenal
sipemberani. Aku tidak takut untuk melawan laki-laki, bahkan banyak teman
laki-laki yang takut denganku.
Ketika upacara dimulai aku merasa sedikit tenang
suara yang memancing amarahku itu berhenti bersuara. Aku tidak ingin membuat
diriku bermasalah aku biarkan saja hinaan itu berlalu.
Aku mulai dapat teman, aku mulai nyaman. Aku tidak
mau dekat dengan satupun laki-laki di kelasku. Aku merasa semua mereka
mentertawakan aku waktu itu.
Aku kaget ketika aku menemukan sebuah surat di dalam
buku catatan fisikaku, aku tidak berani membukanya di kelas.
Salam maaf,
Aku mohon maaf, aku terhukum dengan perkataanku
sendiri waktu kau berbaris di depanmu dihari pertama kita sekolah.
Wajahmu yang manis dan keibuan selalu muncul dalam
setiap mataku mulai aku buka. Aku benar-benar berslah telah menghinamu, Aku merasakan kau mulai
mengetuk relung di hatiku Aku ingin meminta maaf langsung kepadamu, tetapi aku
malu terhadap diriku sendiri.
Tio.
Mulutku membulat
mengetahui pemilik suara yang menghinaku waktu itu. Ternyata dia desahku.
Aku tidak menunjukkan
perhatian kepada dia, ketika guru sedang serius menerangkan aku ingin melihat
mata si Tio itu. Ternyata benar matanya sedang menatap punggungku ketika mataku
akhirnya bertemu dengan matanya getaran itu juga kurasakan.
Akhirnya dia berani
datang menyalami tanganku. Kurasakan tanganya sedingin es begitu juga dengan
tanganku karena getaran itu berdetak keras dilam hatiku.
FITRA HAYATI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar