Translate

Kamis, 01 Desember 2016

SMP NEGERI 226 TEMPAT AKU MENGAJAR SEKARANG


Banyak yang tidak tahu keistimewaan SMPN 226 Jakarta, begitu juga dengan aku yang  di pindah tugaskan ke sekolah ini.
Label yang dikenal selama ini adalah bahwa tidak banyak prestasi di SMPN 226 dan peringkatnya  no 4 dan terkadang 5 di Cilandak dari 6 SMP Negeri yang ada.
Masih dengan hati yang berat, karena aku sudah menyatu di sekolah lama, aku merasa sekolah itu adalah rumahku ke 2, semua sudutnya sudah ku hafal, kapanpun aku ke sana aku bisa sesuka hatiku.
Sungguh berat aku memberi pengertian pada hatiku bahwa mulailah bangun fondasi indah kembali di SMPN 226 ini. Sulit aku berkomunikasi dengan hatiku dan ALLAH tempat aku mengadu.
Hari itu aku mengajar di kelas IX 4 aku mengajar seperti biasa. Aku melihat siswa-siswaku belajar dengan antusias mungkin mereka ingin memberi kesan yang baik terhadap guru barunya ini. Tapi Aku merasa di abaikan satu siswiku. Dia tidak memperhatikan aku mengajar. Aku mengajarkan  Procedure text di kelas itu. Ku lihat temannya mendiktekan soal untuk gadis itu. Lalu aku bertanya “Kenapa harus dibacakan” kata temannya “Dia tidak bisa melihat tulisan di buku bu!” melingkar huruf O di bibir ku. Aku mengamati secara seksama  gadis itu. Dia menggunakan buku yang garisnya berbeda dengan buku temannya. Aku meminta izin untuk melihatnya ternyata buku itu adalah buku dicetak sendiri dengan baris yang besar dan di covernya tertera fotonya.
Gadis itu menarik perhatianku. Diantara jawaban soal Procedure Text yang harus dia jawab ada urutan dari procedure how to make Kunyit Asam, kulihat dia betul menuliskannya. Dia paham dengan apa yang didiktekan oleh temannya, walaupun kudengar pengucapan temannya tidak begitu benar. Aku terkesima dengan pemandangan itu.
Keluar dari kelas lalu aku berkata pada diri ku sendiri “Apakah aku sengaja dibuang ke sekolah seperti ini?”
Sesudah mengajar di kelas ini jam pertama, jam ke 7 dan jam ke 8 aku mengajar dikelas 8.8. Aku tertegun sesaat  di depan pintu kelas. Aku melihat seorang gadis yang tubuhnya agak besar mendorong kursi roda yang diduduki seorang gadis.
Selama proses belajar mengajar aku ingin melihat wajah gadis di kursi roda tadi. Aku sering melempar pandangan ku pada gadis itu. Mata kami tidak pernah beradu pandang, mungkin dia ingin memandang mataku ketika aku melemparkan pandanganku kea rah lain. Saat aku ingin mencari matanya lagi, dia langsung memindahkan pandangannya.
Aku masih merasa orang yang tidak berguna  lalu disingkirkan ke sekolah ini, gejolak ini membuat aku menangis. Pikiran yang tidak baik itu menguasai pikiran, rasa dan tindakanku.
Sekolah ini agak jauh dari rumahku, jadi aku harus menarik mundur jam bangunku, pukul 3.30 aku harus sudah bangun. Aku langsung ke dapur, menghidupkan kompor, ku masak air dan ku taroh  yang akan ku masak, aku kecilkan apinya baru aku minum segelas air. Lalu aku ke toilet dan aku mengambil air wudu.
Aku berniat shalat tahajud.  Aku  mulai doaku dengan menarik  nafas panjang. Lalu aku berkata kepada ALLAH aku berterima kasih atas segalanya, aku berterima kasih atas nafas yang diberikan kepadaku,  rezeki, kehidupan, suami yang baik, anak yang sehat, dan aku juga berterima kasih karena engkau beri aku kesempatan menjadi guru, ketika itu air mataku deras mengalir dari mataku. Perasaan tidak terima dipindahkan ke sekolah baru ini mengguncang emosi ku. Agak lama aku menanggis. 18 tahun 6 bulan aku menapakkan kaki di sekolah lama itu. Aku benar-benar sudah menyatu dengan segala yang ada di situ
Tiba-tiba dua gadis yang kemarin ku lihat di kelas melintas dalam pikiran ku “ini adalah ladang amal baru buat dirimu!” Aku menghapus air mataku. Kuletakkan kalimat yang baru saja melintas dalam pikiranku “Ladang amal baru” dalam pikiranku dan kusatukan dengan hatiku.
Aku menjadi bersemangat , aku berusaha untuk tidak bersedih menerima kepindahan ku ini.
Pagi hari Rabunya aku mengajar di kelas 9.2, ku temui ada siswa yang berbeda lagi dengan temannya. Kelas itu menyambutku dengan ramah, tapi seperti ada yang mereka tutupi. Ada temannya yang bertanya tentang identitasku, suaranya tidak jelas. Ku dengar lalu temannya menyuruh gadis itu untuk diam. Aku mendekati gadis yang bertanya itu, ternyata dia menanyakan nama ku. Terlihat temannya tidak ingin gadis itu terlalu over. Aku mengajar  sebagai mana mestinya, aku memberi tugas.
Besoknya aku masuk lagi kekelas itu. Aku menggunakan media LCD lalu gadis yang kemaren menarik perhatianku berdiri, berjalan ke arah layar tampilan, dia bertanya kata ini artinya apa. Kudengar temannya berteriak menyuruh dia duduk. Karena kaget gadis itu bergegas duduk dan dia hampir terjatuh, dia jalannya kurang seimbang, kelas jadi rebut meneriaki dia.
Gadis itu pun berteriak, aku tidak tahu apa yang dia ucapkan pada awalnya lalu aku dekati “Ada apa?” “Mereka menyoraki aku bu!” sebenarnya tidak begitu jelas tetapi aku mennangkapnya seperti itu.
“Bisa ibu bicara sebentar” pinta ku pada kelas. Semuanya diam, aku mengambil posisi di tengah kelas. “Ibu ingin mengatakan kepada kamu, bahwa banyak dalam hidup kita ini tidak sama dengan apa yang kita inginkan. Sudah berapa kali kalian belajar dengan ibu?” tanyaku “Dua kali bu!” jawab mereka serempak. “Ya baru dua kali ibu mengajar di kelas ini. Kamu semua tahu kalau ibu adalah guru baru di sini. Apakah kamu tahu kalau dipindahkan ke sekolah ini sama dengan keinginan ibu?” pertanyan ku tidak mereka jawab, kelas menjadi diam.
“Tidak sama dengan yang ibu inginkan, apakah ibu harus uring-uringan, tidak mau  mengajar lalu mengajar dengan setengah hati. Tentu ini tidak boleh. Lalu apa yang ibu lakukan?, Ibu komunikasikan kegalauan ibu ini kepada ALLAH, baru dua hari yang lalu ibu mendapat jawabannya bahwa ini adalah ladang amal yang baru buat ibu. Kenapa ibu katakan bahwa ini adalah ladang amal baru buat ibu. Ibu mengajar sudah 18 tahun 6 bulan, belum pernah ibu mengajar anak ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) seperti di 226 ini. Baru tadi pagi saat ibu sholat tahajud ibu menemukan bahwa sekolah ini sangat luar biasa.
Mari kita melihat tean-teman kita yang ABK yang ada di sekolah ini. Sungguh hebat untuk mereka mau dan bertahan  sekolah di sini dan mereka perlu perjuangan yang berbeda dengan kita yang normal. ABK di sini berbeda-beda kondisinya.
“Lalu tadi kalian menyoraki teman klian ini. Apa yang ada didalam pikiran kalian, mari kita lihat kekurangan ini dengan hati, rasa syukur yang harus kita perbanyak. Banyak hal yang kita kerjakan, tapi bagi dia apapun ada penghalang sehingga mereka tidak bisa seperti kita. Dia berusaha ke depan kelas, betapa untuk bertanya yang dia tidak tahu, dan ibu yakin bahwa banyak diantara kamu yang juga tidak tahu arti kata ini, tapi kalian diam saja, tapi dia berjuang maju ke depan untuk bertanya, dengan langkahnya yang demikian, karena dia yakin ibu tidak akan mengerti dengan apa yang diucapkannya.Hebat salut ibu dengan dia. Ibu sangat salut dengan semua orang yang ada di sekeliling dia.”
Aku terdiam agak lama karena aku terbawa emosi, mengingat betapa ibu gadis ini sangat sabar membimbing segala dia, untuk aktifitas sehari-hari dan belajar. Aku ingat anak laki-lakiku yang berumur 7 tahun saat kelas 1 SD dia tidak kunjung bisa membaca lalu aku seperti orang kesurupan, tidak sabar, sampai aku cubit supaya dia secaepatnya bisa membaca, lalu gadis ini aku yakin untuk berbicara dia tidak jelas, aku lihat bukunya huruf dari tulisannya berigi-rigi karena dia sulit sepertinya memegang pulpen. Air mataku keluar.”Inilah pelajaran yang bisa ku petik dari pengalaman hari ini, aku harus lebih sabar.” Hatiku merasa baru saja dicharger dengan aliran sabar yang harus aku airkan ke otak, hati, tindakanku terhadap anakku sendiri.
Aku berdiri lagi, “Bagi  ini kondisi ini pasti tidak sama dengan apa yang dia inginkan. Coba kalian pikirkan, kekuatan apa yang dia miliki sehingga dia begitu kuat, tegar berada di antara kita. Jangan jadikan kekurangan ini jadi ejekan, bahan tertawaan. Jadikan hal ini sebagai motivasi supaya kita menjadi lebih baik dan itu merupakan wujud kita bersyukur.”
Air mataku mengambang di pelupuk mataku, suaraku tidak bisa keluar, aku berdiam diri sesaat. Semua murid ku juga diam. Aku tidak tahu apakah mereka bisa memaknai kata-kata ku ke dalam hati mereka.
Aku terkesima ketika guru bahasa Indonesia masuk, belum duduk dia menceritakan Gadis di kelas 9.2. “Tau ga, itu si D dia semangatnya luar biasa, dia memaksakan untuk menampilkan presentasi kelompoknya, padahal sudah aku bilang tidak usah dia, dan teman-temannya juga sudah melarang, tapi dia maksa, dia terjatuh sampai 4 kali. Terjatuh, lalu berdiri lagi.”
Setelah aku cari tahu ternyata gadis itu kalau berdiri kuatnya tidak lebih dari 10 menit, kalau sudah lebih dia akan terjatuh.”Hebat desahku.
Aku menemukan hal baru lagi. Hari itu hari Senin. Aku duduk sendiri  di meja piket. Lalu seorang siswa yang belum aku kenal  mendekati aku, kubaca namanya
“Ibu guru apa?” Tanya dia.
“Ibu guru Bahasa Inggris. Ini ibu lagi mengoreksi kerjaan temanmu? Dia tahu aku pindah dari mana.
“Ibu, tahu ngga aku lahir tahun berapa?”
“ Ga” aku menggelangkan kepala, kulihat wajahnya, tergambar bahwa wajahnya lebih tua dari siswa SMP kelas 9 yang rata-rata berumur 15 tahun. Sudah terlihat kumis tipis diatas bibirnya. Gambaro tot tangannya juga sudah terlihat, dia sudah seperti orang dewasa.
“Aku lahir tahun 1997 bu”
“Oh ya” desahku
“Itu apa ibu di dalam kantong itu?”
Dia melihat ada kantong plastic hitam di pojok meja piket itu. “Oh ini bekal ibu!” buru-buru aku mengambil dan membukanya, ternyata ada makanan kecil, “ Mau?” tanyaku, “Boleh, tapi masuk dulu ke kelas nanti pas istirahat minta ke ibu ya!” Diapun masuk kekelasnya dan pas jam istirahat dia menemuiku. Benar dia mau memakan pemberianku.
Ternyata ada 18 anak berkebutuhan khusus yang ada di tahun ajaran 2015/2016 ini, yang tersebar di 24 kelas. Jadi tidak semua kelas ada anak ABK nya.
Hari itu menjelang  Ulangan Tengah Semester, aku ingin mencari arsip ulangan semester lalu di perpustakaan, kulihat seorang ibu juga sibuk melakukan hal yang sama dengan yang ku lakukan.
“Cari soal buat siapa bu?” Tanya ku
“Buat anak saya, dia ABK bu, dia di kelas VIII, tadinya dia itu autis, tetapi disini Autisnya sembuh, tetapi sekarang kata dokter dia mengalami retridasi mental ringan dan intelegensinya 51 dan kalau saya tidak extra melatihnya untuk UTS ini, nilainya akan ketinggalan jauh dari teman-temannya”.
Akhirnya aku menemukan ibu ini bersama anaknya. Dia sangat ganteng sekali, tingginya melebihi tinggi ibunya, dilihat secara fisik tidak ada yang kurang semuanya. Dia sangat tanpan sekali.
HAri berikutnya aku menemukan anak ini sedang berjalan bersama dua teman ceweknya. Ketika menyalamiku, aku tanya kenapa di luar kelas ini jam pelajaran, “Tadi dia diganggu teman bu, lalu dia marah-marah, maka gurunya menyuruh kita mengajak dia mutar-mutar sekolah dulu, nanti kalau dia sudah gak marah lagi kita masuk lagi, bu.” Teman perempuannya berbisik menjawab pertanyaanku.
Aku melihat muka anak itu memang cemberut, dia kelihatan sedang marah. “Oh…” desahku.
“Hebat ilmu kejiwaan gurunya.” Kataku dalam hati. Gurunya
 “Sebenarnya anak saya itu ada kemajuan yang pesat sekolah di sini , tadinya dia suka membuat kelas tidak nyaman dan saya harus mengantar dia setiap hari dan menunggu di sekolah. Kalau sekarang dia sudah bisa berangkat bersama abangnya. Dia sekarang sudah mulai bisa berteman dan mandiri bu!”
Ibu itu cukup bangga dengan perkembangan anaknya. Aku  hanya terdiam tanpa mengomentari ucapannya . Oh ya ada satu pertanyaan yang terlontar dari mulutku “Ada berapa orang anaknya bu!”, lalu ibu itu menjawab “Dua orang, abangnya sudah kuliah, ini yang bontot!”. Tidak ada raut sedih di mukanya. Satu per satu dia buka arsip soal.
“Betapa sabarnya ibu ini, aku saja mengajarkan anak  sendiri yang baru berumur 7 tahun, belum bisa membaca, sampai saya berteriak – teriak tidak sabar”.
Sedangkan ibu ini begitu optimis dengan keberhasilan UTS anaknya dengan sebagian usaha yang dia lakukan hari ini, yaitu mencarikan soal-soal tentu tidak sampai di situ saja, soal itu akan dilatihkan, dicari jawaban.
Pengalaman yang menggugah emosi selalu muncul tak sengaja, di SMP 226 ini.
Pagi itu aku diantar suamiku dengan motor, aku turun tak jauh dari gerbang di depan pos satpam. Seorang ibu juga menurunkan anaknya, seorang gadis kecil berjilbab dari motornya, setelah dia ambil jaket yang dipakai gadis  itu, lalu dia memberikan tangan gadis itu untuk bersalaman dengan ku.
“Oh ya” aku buru-buru menyambut tangannya. “Kelas berapa?” tanyaku
“Kelas 7” jawab ibunya,  “Ibu, guru baru disini ya?” Tanya ibunya lagi
“Ya bu”, SDnya dari mana?” Tanya ku
“Dari SD tunanetra Lebak Bulus, lalu dia maunya masuk SMP reguler!” jelas ibunya . “itu ada temannya datang, mau bareng dia?” Tanya ibunya pada gadis itu.
“Cowok atau cewek?” Tanyanya
‘Cowok” jawab ibunya
“Aku maunya cewek!” pintanya
“Dia lahirnya premature, 7 bulan di kandungan dan berat lahirnya hanya 1 kg, dari lahir saja sudah begini!” jelas ibunya
Ibunya meneriakan nama temannya, langsung dua orang mendekati kami. Mereka langsung memberikan lengannya pada gadis kecil berjilbab itu.
“Buku apa itu?” Tanya ku melihat ada satu tas yang berisi buku-buku yang agak besar tidak seperti buku tulis biasa.
“ini buku dengan huruf braile dia juga catatannya pakai huruf braile jadi dia punya buku khusus!”
Gadis itu sudah berlalu dari pemandangan ku, dia bergandengan bertiga dengan dua temannya. Mereka akan menuju lantai 4 karena gadis berjilbab itu baru kelas 7. Kulihat dikedua matanya tidak ada biji matanya,  kelopak matanya saling tertutup daging.
Sejak kejadian hari itu gadis kecil berjilbab itu sering tertangkap perhatianku.
Setiap Senin ketika aku duduk di meja piket di lantai dua, aku sering melihat dia turun bergandeng 3 dengan temannya, dia selalu di tengah, terlihat keceriaan dari langkahnya turun,  terkadang dia mengobrol, tertawa. Temannya sering bergantian mengandengnya.
Setiap ada acara dia selalu di barisan paling depan. Pada peringatan hari guru Rabu, 25 November 2015 kemarin, semua siswa memakai baju pramuka hanya dia yang memakai atribut paling lengkap diantara teman-temannya. Dia pakai topi, kacu, ada tali, ikat pinggang, kaos kaki hitam ada  pluit tergantung di bahunya.
“Luar biasa!” desah ku dalam hati. Ketika lagu “Trima Kasih Guru” di kumandangkan
Aku ikut menyanyikan lagu itu, aku ingat guruku. Aku meletakkan pandangan ku pada gadis kecil berbaju pramuka lengkap itu. Dia berdiri dengan posisi tidak lurus menghadap ke depan, karena dia pasti tidak tahu dimana posisi gurunya berdiri, dimana bendera, di mana pemimpin dan Pembina upacara berdrii. Dia ikut menyanyikan lagu itu kulihat gerak bibirnya benar.
Trima Kasihku
Trima kasihku kucapkan
Pada guruku yang tulus
Ilmu yang berguna slalu dilimpahkan
Untuk bekalku nanti
Setiap hariku dibimbingnya
Agar tumbuhlah bakatku
Kan kuingat slalu nasehat guruku
Trima kasihku ucapkan
Air mataku jatuh  dari mataku. Akankah aku sangup menjadi guru yang pantas mendapat ucapan terima kasih dari muridku. Apakah aku bisa menjadi guru yang ada jasanya buat gadis seperti dia, karena aku masih binggung memikirkan bagaimana cara yang mudah untuk mengajar anak seperti dia.
Betapa gadis itu ingin menjadi sangat baik padahal, dia tidak akan pernah melihat orang-orang yang telah melakukan kebaikan kepadanya, apa yang diperintahkan bahkan yang dia perbuat dia tidak pernah akan bisa melihatnya karena dia tidak mempunyai bola mata seperti temannya yang ada di sekolah ini yang berjumlah lebih dari 800 orang. Tidak ada pernah setitik cahayapun akan lewat ke matanya. Dia mengetahui keindahan melalui kekuatan rasa yang dia miliki
Sekolah ini jadi luar biasa di hatiku. Di suatu Senin pada pelaksanaan upacara bendera rutin. Pelaksananya adalah kelas 8 , lalu satu diantara pelaksana itu adalah tuna netra, berkulit putih dengan senyum ikhlas selalu mengambang di bibirnya. Dia membacakan janji siswa.
Ketika gilirannya tiba, dia tidak tahu dimana posisi pengeras suara berada. Dia dituntun temannya. Dia membuka teks janji siswa itu. Mudah-mudahan tidak terbalik, karena tidak ada gunanya dia membuka teks itu karena dia tidak melihat huruf yang ada disitu. Dia mengucapkan setiap nomor dari naskah itu dengan lantang  dan dengan intonasi yang jelas, lalu diikuti oleh teman-temannya. Perfect tidak satu kata,  intonasi dan pemenggalan kalimatnya yang salah dia ucapkan.
Aku  berdoa, semoga ketika dia menarik teks yang dia buka tadi itu tidak menyenggol pengeras suara, jika itu terjadi akan memancing tawa dari murid-murid lain. Bersyukur dia kembali ke posisi semula tanpa kesalahan. Aku bernafas lega ketika dia sudah di posisi semula.
Mungkin tidak butuh waktu lama baginya untuk menghafal teks sependek itu.
Hari Jumat waktunya tadarus di lapangan, ketika turun tangga kulihat cowok ganteng putih dengan bola matanya banyak garis putih, yang hari Senin membaca teks janji siswa  membawa buku besar. Saat duduk perkelas aku kehilangan dia. Aku ingin tahu apa yang dibawanya turun tadi. Akhirnya kutemukan dia duduk agak di tengah. Buku besar tadi hanya dia peluk di dadanya padahal guru agama yang ada di depan sudah memerintahkan untuk membuka surat Al- Baqarah.
“Kenapa tidak dibuka?” Tanya ku.
“Salah bawa bu!” walau dia belum pernah belajar dengan ku, mata hatinya bisa memberi tahu bahwa yang sedang bertanya itu adalah ibu guru.
“Salah kenapa?” Tanyaku.
“Saya bawanya yang jus 5, harusnya surat Al-Baqarah itu jus 1 bu!”
“Coba dibuka!” pinta ku, aku ingin tahu apa isi buku itu. Tidak ada yang bisa ku pahami dari kertas putih yang berisi titik-titik itu
Hanya dia yang tahu kalau buku yang dia bawa itu salah. Dia menyimak apa yang dibaca di depan.
Ketika dia berjalan dengan teman-temannya dia tidak seperti orang buta yang biasa kulihat, meletakkan tangan di pundak orang lain. Dia berjalan seperti biasa atau terkadang badannya agak berdekatan dengan temannya.
Suatu hari ketika dia sedang menunggu jemputannya di dekat pos satpam, aku dekati dia
“Belum di jemput?” sapa ku
“Belum bu.” Apakah dia sudah mengenal suaraku
“Ini tasnya, belum diresleting?” aku mengingatkan sambil mesletingkannya
“Sudah rusak bu!”
“Oh, besok dibetulkan ya, atau ganti yang lain!” aku khawati barang-barang yang ada di tasnya akan berserakan bila dibiarkan saja. Wajahnya bersih, senyumnya  tulus. Ternyata dia adalah pemenang olimpiade nomor 1 matematika tingkat nasional untuk anak tuna netra.
Oh ya gadis di kursi roda yang kutemui dihari pertama itu, setiap hari dia ditemani oleh perawatnya, karena setiap 4 jam dia harus  buang air kecil, dan harus ada yang membantu. Ada papa, atau kakeknya yang menunggu di mobil, karena dia tidak bisa melakukannya di toilet biasa.
Aku mencoba membuat kontak mata  antara aku dan dia. Di hari pertama aku mengajar dia selalu menjauhkan matanya dari ku. Walau aku berusaha mencari-cari bola matanya dengan pandangan ku.
Hari itu aku memberi tugas membuat kartu ucapan untuk hari ulang tahun ibu. Aku menyuruh semua muridku  menulis kata-kata yang indah buat ibunya untuk ulang tahun ibunya. Aku mengedit tata bahasa Bahasa Inggris  sampai  betul. Setelah itu aku menyuruh membuat dengan kartu ucapan seindah mungkin, harus dibacakan kepada ibunya dan diberi komentar setelah dibaca. Awalnya dia membuatnya tidak bagus, lalu aku kembalikan. Di hari berikutnya dia buat bagus sekali. Lalu aku katakan “Ibu suka dengan karya mu” Dia  tersenyum kepada ku. Akhirnya mata kami beradu pandang. Senyum indah dari hatinya.
“Mam, I will love you forever, and thank you for everything in my life“Kubaca komentar ibunya “Mama bangga punya anak seperti kamu, mama akan selalu berdoa yang terbaik buat anak mama yang sangat mama sayangi.” “Hebat” desah ku membayangkan kekuatan, keuletan, kesabaran ibunya membesarkan anak seperti dia. Aku yakin apa yang ditulis ibunya pasti itulah yang ada di hatinya. Tetapi sebagai ibu aku membayangkan betapa berat dia harus menulis itu dan kenyataan dia sangat sedih melihat kondisi anaknya.
Saat UTS dia memperoleh nilai 80. “Bagus sekali, ibu bangga dengan mu!” puji ku di depan kelasnya, padahal di kelas itu paling banyak nilai 60 atau bahkan ada yang nilianya 30.
Hanya beberapa temannya yang berempati mendorongkan kursi rodanya. Kulihat setiap kegiatan upacara, olah raga semua dia ikuti. Aku benar-benar kagum dengan motivasi yang ada di dalam dirinya, Hari Rabu itu semua warga sekolah senam, dipimpin oleh bapak kepala sekolah Bapak Suharnanto. Kulihat dia juga ikut senam di atas kursi rodanya, dia ikuti semua gerakan, kepala dan tangan, ketika berputar kursi rodanya dia putar. WOW. Kekuatan yang ada didalam dirinya sangat luar biasa.
SMPN 226 menjadi luar biasa dimata dan hatiku. Semua guru disini tidak ada yang berlatar belakang guru untuk ABK tetapi mereka harus di hadapkan kepada siswa-siswa yang kebutuhannya berbeda-beda. Guru di SLB A dia hanya mengajar anak tuna netra saja, tetapi di SMPN 226 all in paketnya ada tuna netra, cacat fisik, tuna rungu, autis, low vision, lambat belajar..
Bukan  berarti sekolah ini menerima semua ABK, ada syaratnya karena dia akan tetap mengikuti kurikulum sekolah reguler, materinya tidak berbeda hanya perlakuannya yang berbeda, pencapaian ketuntasan minimal untuk mereka yang berkebutuhan khusus tidak merupakan penentu.
Di sinilah hebatnya guru-guru SMPN 226, dia harus bisa membuat setiap anak baik yang regular dan ABK sama-sama bisa memperoleh materi yang diajarkan.
Ada 36 siswa satu kelas, ada 1 anak ABK , belum lagi ada anak anak yang bukan ABK tetapi berkelakuan yang dapat mendatangkan kemarahan bagi para guru. Anak yang seperti ini di satu kelas bisa banyak. Terkadang anak yang bukan termasuk mereka yang berkebutuhan khusus tapi mereka melebihi mereka yang berkebutuhan khusus.
Kebanyakan anak anak di SMPN 226 menjadikan sekolah ini bukan pilihan pertamanya, hanya 15% saja yang menjadikan sekolah ini pilihan pertama.
Sikap mereka tergambar dari motivasi belajar mereka yang kurang bagus, sehingga hasil UNnya bila dibandingkan dengan sekolah negeri di Cilandak agak berada dibawah. Mereka berfikir yang penting sekolah dapat negeri dan gratis. Dukungan orang tua juga tidak terlalu kuat sehingga anak itu hanya memperoleh materi di kelas dan banyak tidak dapat penguatan di rumah.
Walau ada yang sungguh-sungguh tapi tidak banyak prosentasnya.Seharusnya tidak demikian mereka harus lebih baik, karena dengan melihat teman-teman ABK nya yang luar biasa itu, hal ini harus dijadikan motivasi. Mereka belum memaknai kondisi ini dengan hati. Mereka tidak tahu bahwa usaha guru-guru disini sungguh luar biasa.
Ketika UAS, anak anak yang normal ulangan di kelas dan anak  ABK khususnya tuna netra di tempatkan di Laboratorium IPA.  Mereka dibacakan soalnya satu persatu lalu mereka menjawab di kertas braile atau apa saja teknisnya lalu guru yang atadi mediktekan soal akan menghitamkan jawabannya di LJK.
Ini adalah pengalaman pertamaku. Hari itu Selasa, 8 Desember 2015 mata ulangan adalah bahasa Inggris. Aku bersama 2 guru Bahasa Inggris lainnya ke ruang laboratorium IPA. Ketika pintu dibuka 7 anak diruang itu menyapa nama 2 guru karena mereka sudah kenal, hanya 3 anak yang menyebut namaku. Aku diberi soal untuk kelas 8. Aku di ajarkan bagaimana teknisnya. Soalnya dibacakan, menulis data siswa di lembar jawaban, dan menghitamkan semua jawaban anak itu setelah semua nomor mereka jawab. Aku membacakan semua teks dan jawaban untuk mereka.
Aku akan membacakan soal untuk dua orang anak, yang satu adalah yang dibacakan khususnya untuk yang tuna netra, yang satu adalah anak yang membacakan janji siswa dan yang satunya lagi tidak terdeteksi oleh ku, aku tidak mengajarnya, bila dilihat sepintas dia tidak seperti orang buta, bola matanya normal, badannya tinggi besar perawakannya cukup ganteng. Aku perkenalkan nama ku. Satu persatu soal kubacakan. Mereka menjawab di kertasnya setelah selasai baru aku hitamkan di lembar jawaban komputer. Setelah selasai berkali-kali siswa itu berterima kasih. Hal ini sangat baru bagiku, tentu bagi guru-guru yang telah lama di sini sudah menjadi biasa padahal menurutku itu luar biasa. Aku yakin guru-guru di sini adalah pilihan ALLAH semua. Agar  anak-anak itu tetap kuat di sini untuk belajar, dan katanya ada ABK yang sudah sukses. Mungkin ada bisikan atau belaian atau ungkapan yang menjadi motivasi atau inspirasi sehingga mereka punya mimpi dan menjemput mimpi dalam kekurangan mereka.
Ketika aku menjadi panitia ujian, satu guru meminta izin padaku untuk membuatkan gambar yang ada pada soal matematika sehingga anak-anak yang tuna netra bisa merabanya ketika diberi soal itu. Aku merasakan diriku belum pernah berbuat lebih seperti yang dia lakukan. Dia telah melakukan sejak lama supaya anak-anak itu bisa mendeskripsikan gambar yang mereka raba dalam pikiran mereka. Hebat desahku, tidak ada perintah dari kepala sekolah untuk melakukan apa yang akan dia lakukan, pasti hatinya yang terdalam yang memerintahnya untuk berbuat kebaikan seperti itu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar