Banyak yang tidak tahu keistimewaan SMPN 226
Jakarta, begitu juga dengan aku yang di pindah
tugaskan ke sekolah ini.
Label yang dikenal selama ini adalah bahwa tidak
banyak prestasi di SMPN 226 dan peringkatnya
no 4 dan terkadang 5 di Cilandak dari 6 SMP Negeri yang ada.
Masih dengan hati yang berat, karena aku sudah
menyatu di sekolah lama, aku merasa sekolah itu adalah rumahku ke 2, semua
sudutnya sudah ku hafal, kapanpun aku ke sana aku bisa sesuka hatiku.
Sungguh berat aku memberi pengertian pada hatiku
bahwa mulailah bangun fondasi indah kembali di SMPN 226 ini. Sulit aku
berkomunikasi dengan hatiku dan ALLAH tempat aku mengadu.
Hari itu aku mengajar di kelas IX 4 aku mengajar
seperti biasa. Aku melihat siswa-siswaku belajar dengan antusias mungkin mereka
ingin memberi kesan yang baik terhadap guru barunya ini. Tapi Aku merasa di
abaikan satu siswiku. Dia tidak memperhatikan aku mengajar. Aku
mengajarkan Procedure text di kelas itu.
Ku lihat temannya mendiktekan soal untuk gadis itu. Lalu aku bertanya “Kenapa
harus dibacakan” kata temannya “Dia tidak bisa melihat tulisan di buku bu!”
melingkar huruf O di bibir ku. Aku mengamati secara seksama gadis itu. Dia menggunakan buku yang garisnya
berbeda dengan buku temannya. Aku meminta izin untuk melihatnya ternyata buku
itu adalah buku dicetak sendiri dengan baris yang besar dan di covernya tertera
fotonya.
Gadis itu menarik perhatianku. Diantara jawaban soal
Procedure Text yang harus dia jawab ada urutan dari procedure how to make Kunyit Asam, kulihat dia
betul menuliskannya. Dia paham dengan apa yang didiktekan oleh temannya,
walaupun kudengar pengucapan temannya tidak begitu benar. Aku terkesima dengan
pemandangan itu.
Keluar dari kelas lalu aku berkata pada diri ku
sendiri “Apakah aku sengaja dibuang ke sekolah seperti ini?”
Sesudah mengajar di kelas ini jam pertama, jam ke 7
dan jam ke 8 aku mengajar dikelas 8.8. Aku tertegun sesaat di depan pintu kelas. Aku melihat seorang
gadis yang tubuhnya agak besar mendorong kursi roda yang diduduki seorang
gadis.
Selama proses belajar mengajar aku ingin melihat
wajah gadis di kursi roda tadi. Aku sering melempar pandangan ku pada gadis
itu. Mata kami tidak pernah beradu pandang, mungkin dia ingin memandang mataku
ketika aku melemparkan pandanganku kea rah lain. Saat aku ingin mencari matanya
lagi, dia langsung memindahkan pandangannya.
Aku masih merasa orang yang tidak berguna lalu disingkirkan ke sekolah ini, gejolak ini
membuat aku menangis. Pikiran yang tidak baik itu menguasai pikiran, rasa dan
tindakanku.
Sekolah ini agak jauh dari rumahku, jadi aku harus
menarik mundur jam bangunku, pukul 3.30 aku harus sudah bangun. Aku langsung ke
dapur, menghidupkan kompor, ku masak air dan ku taroh yang akan ku masak, aku kecilkan apinya baru
aku minum segelas air. Lalu aku ke toilet dan aku mengambil air wudu.
Aku berniat shalat tahajud. Aku
mulai doaku dengan menarik nafas
panjang. Lalu aku berkata kepada ALLAH aku berterima kasih atas segalanya, aku
berterima kasih atas nafas yang diberikan kepadaku, rezeki, kehidupan, suami yang baik, anak yang
sehat, dan aku juga berterima kasih karena engkau beri aku kesempatan menjadi
guru, ketika itu air mataku deras mengalir dari mataku. Perasaan tidak terima
dipindahkan ke sekolah baru ini mengguncang emosi ku. Agak lama aku menanggis.
18 tahun 6 bulan aku menapakkan kaki di sekolah lama itu. Aku benar-benar sudah
menyatu dengan segala yang ada di situ
Tiba-tiba dua gadis yang kemarin ku lihat di kelas
melintas dalam pikiran ku “ini adalah ladang amal baru buat dirimu!” Aku
menghapus air mataku. Kuletakkan kalimat yang baru saja melintas dalam
pikiranku “Ladang amal baru” dalam pikiranku dan kusatukan dengan hatiku.
Aku menjadi bersemangat , aku berusaha untuk tidak
bersedih menerima kepindahan ku ini.
Pagi hari Rabunya aku mengajar di kelas 9.2, ku
temui ada siswa yang berbeda lagi dengan temannya. Kelas itu menyambutku dengan
ramah, tapi seperti ada yang mereka tutupi. Ada temannya yang bertanya tentang
identitasku, suaranya tidak jelas. Ku dengar lalu temannya menyuruh gadis itu
untuk diam. Aku mendekati gadis yang bertanya itu, ternyata dia menanyakan nama
ku. Terlihat temannya tidak ingin gadis itu terlalu over. Aku mengajar sebagai mana mestinya, aku memberi tugas.
Besoknya aku masuk lagi kekelas itu. Aku menggunakan
media LCD lalu gadis yang kemaren menarik perhatianku berdiri, berjalan ke arah
layar tampilan, dia bertanya kata ini artinya apa. Kudengar temannya berteriak
menyuruh dia duduk. Karena kaget gadis itu bergegas duduk dan dia hampir
terjatuh, dia jalannya kurang seimbang, kelas jadi rebut meneriaki dia.
Gadis itu pun berteriak, aku tidak tahu apa yang dia
ucapkan pada awalnya lalu aku dekati “Ada apa?” “Mereka menyoraki aku bu!”
sebenarnya tidak begitu jelas tetapi aku mennangkapnya seperti itu.
“Bisa ibu bicara sebentar” pinta ku pada kelas.
Semuanya diam, aku mengambil posisi di tengah kelas. “Ibu ingin mengatakan
kepada kamu, bahwa banyak dalam hidup kita ini tidak sama dengan apa yang kita
inginkan. Sudah berapa kali kalian belajar dengan ibu?” tanyaku “Dua kali bu!”
jawab mereka serempak. “Ya baru dua kali ibu mengajar di kelas ini. Kamu semua
tahu kalau ibu adalah guru baru di sini. Apakah kamu tahu kalau dipindahkan ke
sekolah ini sama dengan keinginan ibu?” pertanyan ku tidak mereka jawab, kelas
menjadi diam.
“Tidak sama dengan yang ibu inginkan, apakah ibu
harus uring-uringan, tidak mau mengajar
lalu mengajar dengan setengah hati. Tentu ini tidak boleh. Lalu apa yang ibu
lakukan?, Ibu komunikasikan kegalauan ibu ini kepada ALLAH, baru dua hari yang
lalu ibu mendapat jawabannya bahwa ini adalah ladang amal yang baru buat ibu.
Kenapa ibu katakan bahwa ini adalah ladang amal baru buat ibu. Ibu mengajar
sudah 18 tahun 6 bulan, belum pernah ibu mengajar anak ABK (Anak Berkebutuhan
Khusus) seperti di 226 ini. Baru tadi pagi saat ibu sholat tahajud ibu
menemukan bahwa sekolah ini sangat luar biasa.
Mari kita melihat tean-teman kita yang ABK yang ada
di sekolah ini. Sungguh hebat untuk mereka mau dan bertahan sekolah di sini dan mereka perlu perjuangan
yang berbeda dengan kita yang normal. ABK di sini berbeda-beda kondisinya.
“Lalu tadi kalian menyoraki teman klian ini. Apa yang
ada didalam pikiran kalian, mari kita lihat kekurangan ini dengan hati, rasa
syukur yang harus kita perbanyak. Banyak hal yang kita kerjakan, tapi bagi dia
apapun ada penghalang sehingga mereka tidak bisa seperti kita. Dia berusaha ke
depan kelas, betapa untuk bertanya yang dia tidak tahu, dan ibu yakin bahwa
banyak diantara kamu yang juga tidak tahu arti kata ini, tapi kalian diam saja,
tapi dia berjuang maju ke depan untuk bertanya, dengan langkahnya yang
demikian, karena dia yakin ibu tidak akan mengerti dengan apa yang
diucapkannya.Hebat salut ibu dengan dia. Ibu sangat salut dengan semua orang
yang ada di sekeliling dia.”
Aku terdiam agak lama karena aku terbawa emosi,
mengingat betapa ibu gadis ini sangat sabar membimbing segala dia, untuk
aktifitas sehari-hari dan belajar. Aku ingat anak laki-lakiku yang berumur 7
tahun saat kelas 1 SD dia tidak kunjung bisa membaca lalu aku seperti orang
kesurupan, tidak sabar, sampai aku cubit supaya dia secaepatnya bisa membaca,
lalu gadis ini aku yakin untuk berbicara dia tidak jelas, aku lihat bukunya
huruf dari tulisannya berigi-rigi karena dia sulit sepertinya memegang pulpen.
Air mataku keluar.”Inilah pelajaran yang bisa ku petik dari pengalaman hari
ini, aku harus lebih sabar.” Hatiku merasa baru saja dicharger dengan aliran
sabar yang harus aku airkan ke otak, hati, tindakanku terhadap anakku sendiri.
Aku berdiri lagi, “Bagi ini kondisi ini pasti tidak sama dengan apa
yang dia inginkan. Coba kalian pikirkan, kekuatan apa yang dia miliki sehingga
dia begitu kuat, tegar berada di antara kita. Jangan jadikan kekurangan ini
jadi ejekan, bahan tertawaan. Jadikan hal ini sebagai motivasi supaya kita
menjadi lebih baik dan itu merupakan wujud kita bersyukur.”
Air mataku mengambang di pelupuk mataku, suaraku
tidak bisa keluar, aku berdiam diri sesaat. Semua murid ku juga diam. Aku tidak
tahu apakah mereka bisa memaknai kata-kata ku ke dalam hati mereka.
Aku terkesima ketika guru bahasa Indonesia masuk,
belum duduk dia menceritakan Gadis di kelas 9.2. “Tau ga, itu si D dia
semangatnya luar biasa, dia memaksakan untuk menampilkan presentasi
kelompoknya, padahal sudah aku bilang tidak usah dia, dan teman-temannya juga
sudah melarang, tapi dia maksa, dia terjatuh sampai 4 kali. Terjatuh, lalu
berdiri lagi.”
Setelah aku cari tahu ternyata gadis itu kalau
berdiri kuatnya tidak lebih dari 10 menit, kalau sudah lebih dia akan
terjatuh.”Hebat desahku.
Aku menemukan hal baru lagi. Hari itu hari Senin.
Aku duduk sendiri di meja piket. Lalu
seorang siswa yang belum aku kenal mendekati
aku, kubaca namanya
“Ibu guru apa?” Tanya dia.
“Ibu guru Bahasa Inggris. Ini ibu lagi mengoreksi
kerjaan temanmu? Dia tahu aku pindah dari mana.
“Ibu, tahu ngga aku lahir tahun berapa?”
“ Ga” aku menggelangkan kepala, kulihat wajahnya,
tergambar bahwa wajahnya lebih tua dari siswa SMP kelas 9 yang rata-rata
berumur 15 tahun. Sudah terlihat kumis tipis diatas bibirnya. Gambaro tot
tangannya juga sudah terlihat, dia sudah seperti orang dewasa.
“Aku lahir tahun 1997 bu”
“Oh ya” desahku
“Itu apa ibu di dalam kantong itu?”
Dia melihat ada kantong plastic hitam di pojok meja
piket itu. “Oh ini bekal ibu!” buru-buru aku mengambil dan membukanya, ternyata
ada makanan kecil, “ Mau?” tanyaku, “Boleh, tapi masuk dulu ke kelas nanti pas
istirahat minta ke ibu ya!” Diapun masuk kekelasnya dan pas jam istirahat dia
menemuiku. Benar dia mau memakan pemberianku.
Ternyata ada 18 anak berkebutuhan khusus yang ada di
tahun ajaran 2015/2016 ini, yang tersebar di 24 kelas. Jadi tidak semua kelas
ada anak ABK nya.
Hari itu menjelang
Ulangan Tengah Semester, aku ingin mencari arsip ulangan semester lalu
di perpustakaan, kulihat seorang ibu juga sibuk melakukan hal yang sama dengan
yang ku lakukan.
“Cari soal buat siapa bu?” Tanya ku
“Buat anak saya, dia ABK bu, dia di kelas VIII, tadinya
dia itu autis, tetapi disini Autisnya sembuh, tetapi sekarang kata dokter dia
mengalami retridasi mental ringan dan intelegensinya 51 dan kalau saya tidak
extra melatihnya untuk UTS ini, nilainya akan ketinggalan jauh dari
teman-temannya”.
Akhirnya aku menemukan ibu ini bersama anaknya. Dia
sangat ganteng sekali, tingginya melebihi tinggi ibunya, dilihat secara fisik
tidak ada yang kurang semuanya. Dia sangat tanpan sekali.
HAri berikutnya aku menemukan anak ini sedang
berjalan bersama dua teman ceweknya. Ketika menyalamiku, aku tanya kenapa di
luar kelas ini jam pelajaran, “Tadi dia diganggu teman bu, lalu dia
marah-marah, maka gurunya menyuruh kita mengajak dia mutar-mutar sekolah dulu,
nanti kalau dia sudah gak marah lagi kita masuk lagi, bu.” Teman perempuannya
berbisik menjawab pertanyaanku.
Aku melihat muka anak itu memang cemberut, dia
kelihatan sedang marah. “Oh…” desahku.
“Hebat ilmu kejiwaan gurunya.” Kataku dalam hati.
Gurunya
“Sebenarnya
anak saya itu ada kemajuan yang pesat sekolah di sini , tadinya dia suka
membuat kelas tidak nyaman dan saya harus mengantar dia setiap hari dan
menunggu di sekolah. Kalau sekarang dia sudah bisa berangkat bersama abangnya.
Dia sekarang sudah mulai bisa berteman dan mandiri bu!”
Ibu itu cukup bangga dengan perkembangan anaknya.
Aku hanya terdiam tanpa mengomentari
ucapannya . Oh ya ada satu pertanyaan yang terlontar dari mulutku “Ada berapa
orang anaknya bu!”, lalu ibu itu menjawab “Dua orang, abangnya sudah kuliah,
ini yang bontot!”. Tidak ada raut sedih di mukanya. Satu per satu dia buka
arsip soal.
“Betapa sabarnya ibu ini, aku saja mengajarkan
anak sendiri yang baru berumur 7 tahun,
belum bisa membaca, sampai saya berteriak – teriak tidak sabar”.
Sedangkan ibu ini begitu optimis dengan keberhasilan
UTS anaknya dengan sebagian usaha yang dia lakukan hari ini, yaitu mencarikan
soal-soal tentu tidak sampai di situ saja, soal itu akan dilatihkan, dicari
jawaban.
Pengalaman yang menggugah emosi selalu muncul tak
sengaja, di SMP 226 ini.
Pagi itu aku diantar suamiku dengan motor, aku turun
tak jauh dari gerbang di depan pos satpam. Seorang ibu juga menurunkan anaknya,
seorang gadis kecil berjilbab dari motornya, setelah dia ambil jaket yang
dipakai gadis itu, lalu dia memberikan
tangan gadis itu untuk bersalaman dengan ku.
“Oh ya” aku buru-buru menyambut tangannya. “Kelas
berapa?” tanyaku
“Kelas 7” jawab ibunya, “Ibu, guru baru disini ya?” Tanya ibunya lagi
“Ya bu”, SDnya dari mana?” Tanya ku
“Dari SD tunanetra Lebak Bulus, lalu dia maunya
masuk SMP reguler!” jelas ibunya . “itu ada temannya datang, mau bareng dia?”
Tanya ibunya pada gadis itu.
“Cowok atau cewek?” Tanyanya
‘Cowok” jawab ibunya
“Aku maunya cewek!” pintanya
“Dia lahirnya premature, 7 bulan di kandungan dan
berat lahirnya hanya 1 kg, dari lahir saja sudah begini!” jelas ibunya
Ibunya meneriakan nama temannya, langsung dua orang
mendekati kami. Mereka langsung memberikan lengannya pada gadis kecil berjilbab
itu.
“Buku apa itu?” Tanya
ku melihat ada satu tas yang berisi buku-buku yang agak besar tidak seperti
buku tulis biasa.
“ini buku dengan huruf
braile dia juga catatannya pakai huruf braile jadi dia punya buku khusus!”
Gadis itu sudah berlalu
dari pemandangan ku, dia bergandengan bertiga dengan dua temannya. Mereka akan
menuju lantai 4 karena gadis berjilbab itu baru kelas 7. Kulihat dikedua
matanya tidak ada biji matanya, kelopak
matanya saling tertutup daging.
Sejak kejadian hari itu
gadis kecil berjilbab itu sering tertangkap perhatianku.
Setiap Senin ketika aku
duduk di meja piket di lantai dua, aku sering melihat dia turun bergandeng 3
dengan temannya, dia selalu di tengah, terlihat keceriaan dari langkahnya
turun, terkadang dia mengobrol, tertawa.
Temannya sering bergantian mengandengnya.
Setiap ada acara dia
selalu di barisan paling depan. Pada peringatan hari guru Rabu, 25 November
2015 kemarin, semua siswa memakai baju pramuka hanya dia yang memakai atribut
paling lengkap diantara teman-temannya. Dia pakai topi, kacu, ada tali, ikat
pinggang, kaos kaki hitam ada pluit tergantung
di bahunya.
“Luar biasa!” desah ku
dalam hati. Ketika lagu “Trima Kasih Guru” di kumandangkan
Aku ikut menyanyikan
lagu itu, aku ingat guruku. Aku meletakkan pandangan ku pada gadis kecil
berbaju pramuka lengkap itu. Dia berdiri dengan posisi tidak lurus menghadap ke
depan, karena dia pasti tidak tahu dimana posisi gurunya berdiri, dimana
bendera, di mana pemimpin dan Pembina upacara berdrii. Dia ikut menyanyikan
lagu itu kulihat gerak bibirnya benar.
Trima Kasihku
Trima kasihku kucapkan
Pada guruku yang tulus
Ilmu yang berguna slalu dilimpahkan
Untuk bekalku nanti
Setiap hariku dibimbingnya
Agar tumbuhlah bakatku
Kan kuingat slalu nasehat guruku
Trima kasihku ucapkan
Air mataku jatuh dari mataku. Akankah aku sangup menjadi guru
yang pantas mendapat ucapan terima kasih dari muridku. Apakah aku bisa menjadi
guru yang ada jasanya buat gadis seperti dia, karena aku masih binggung
memikirkan bagaimana cara yang mudah untuk mengajar anak seperti dia.
Betapa gadis itu ingin
menjadi sangat baik padahal, dia tidak akan pernah melihat orang-orang yang
telah melakukan kebaikan kepadanya, apa yang diperintahkan bahkan yang dia
perbuat dia tidak pernah akan bisa melihatnya karena dia tidak mempunyai bola
mata seperti temannya yang ada di sekolah ini yang berjumlah lebih dari 800
orang. Tidak ada pernah setitik cahayapun akan lewat ke matanya. Dia mengetahui
keindahan melalui kekuatan rasa yang dia miliki
Sekolah ini jadi luar
biasa di hatiku. Di suatu Senin pada pelaksanaan upacara bendera rutin.
Pelaksananya adalah kelas 8 , lalu satu diantara pelaksana itu adalah tuna
netra, berkulit putih dengan senyum ikhlas selalu mengambang di bibirnya. Dia
membacakan janji siswa.
Ketika gilirannya tiba,
dia tidak tahu dimana posisi pengeras suara berada. Dia dituntun temannya. Dia
membuka teks janji siswa itu. Mudah-mudahan tidak terbalik, karena tidak ada
gunanya dia membuka teks itu karena dia tidak melihat huruf yang ada disitu.
Dia mengucapkan setiap nomor dari naskah itu dengan lantang dan dengan intonasi yang jelas, lalu diikuti
oleh teman-temannya. Perfect tidak satu kata,
intonasi dan pemenggalan kalimatnya yang salah dia ucapkan.
Aku berdoa, semoga ketika dia menarik teks yang
dia buka tadi itu tidak menyenggol pengeras suara, jika itu terjadi akan
memancing tawa dari murid-murid lain. Bersyukur dia kembali ke posisi semula
tanpa kesalahan. Aku bernafas lega ketika dia sudah di posisi semula.
Mungkin tidak butuh
waktu lama baginya untuk menghafal teks sependek itu.
Hari Jumat waktunya
tadarus di lapangan, ketika turun tangga kulihat cowok ganteng putih dengan
bola matanya banyak garis putih, yang hari Senin membaca teks janji siswa membawa buku besar. Saat duduk perkelas aku
kehilangan dia. Aku ingin tahu apa yang dibawanya turun tadi. Akhirnya
kutemukan dia duduk agak di tengah. Buku besar tadi hanya dia peluk di dadanya
padahal guru agama yang ada di depan sudah memerintahkan untuk membuka surat
Al- Baqarah.
“Kenapa tidak dibuka?”
Tanya ku.
“Salah bawa bu!” walau
dia belum pernah belajar dengan ku, mata hatinya bisa memberi tahu bahwa yang
sedang bertanya itu adalah ibu guru.
“Salah kenapa?”
Tanyaku.
“Saya bawanya yang jus
5, harusnya surat Al-Baqarah itu jus 1 bu!”
“Coba dibuka!” pinta
ku, aku ingin tahu apa isi buku itu. Tidak ada yang bisa ku pahami dari kertas
putih yang berisi titik-titik itu
Hanya dia yang tahu
kalau buku yang dia bawa itu salah. Dia menyimak apa yang dibaca di depan.
Ketika dia berjalan
dengan teman-temannya dia tidak seperti orang buta yang biasa kulihat,
meletakkan tangan di pundak orang lain. Dia berjalan seperti biasa atau
terkadang badannya agak berdekatan dengan temannya.
Suatu hari ketika dia
sedang menunggu jemputannya di dekat pos satpam, aku dekati dia
“Belum di jemput?” sapa
ku
“Belum bu.” Apakah dia
sudah mengenal suaraku
“Ini tasnya, belum
diresleting?” aku mengingatkan sambil mesletingkannya
“Sudah rusak bu!”
“Oh, besok dibetulkan
ya, atau ganti yang lain!” aku khawati barang-barang yang ada di tasnya akan
berserakan bila dibiarkan saja. Wajahnya bersih, senyumnya tulus. Ternyata dia adalah pemenang olimpiade
nomor 1 matematika tingkat nasional untuk anak tuna netra.
Oh ya gadis di kursi roda yang kutemui dihari
pertama itu, setiap hari dia ditemani oleh perawatnya, karena setiap 4 jam dia
harus buang air kecil, dan harus ada
yang membantu. Ada papa, atau kakeknya yang menunggu di mobil, karena dia tidak
bisa melakukannya di toilet biasa.
Aku mencoba membuat
kontak mata antara aku dan dia. Di hari
pertama aku mengajar dia selalu menjauhkan matanya dari ku. Walau aku berusaha
mencari-cari bola matanya dengan pandangan ku.
Hari itu aku memberi
tugas membuat kartu ucapan untuk hari ulang tahun ibu. Aku menyuruh semua
muridku menulis kata-kata yang indah
buat ibunya untuk ulang tahun ibunya. Aku mengedit tata bahasa Bahasa
Inggris sampai betul. Setelah itu aku menyuruh membuat
dengan kartu ucapan seindah mungkin, harus dibacakan kepada ibunya dan diberi
komentar setelah dibaca. Awalnya dia membuatnya tidak bagus, lalu aku
kembalikan. Di hari berikutnya dia buat bagus sekali. Lalu aku katakan “Ibu
suka dengan karya mu” Dia tersenyum
kepada ku. Akhirnya mata kami beradu pandang. Senyum indah dari hatinya.
“Mam, I will love you
forever, and thank you for everything in my life“Kubaca komentar ibunya “Mama
bangga punya anak seperti kamu, mama akan selalu berdoa yang terbaik buat anak
mama yang sangat mama sayangi.” “Hebat” desah ku membayangkan kekuatan,
keuletan, kesabaran ibunya membesarkan anak seperti dia. Aku yakin apa yang
ditulis ibunya pasti itulah yang ada di hatinya. Tetapi sebagai ibu aku
membayangkan betapa berat dia harus menulis itu dan kenyataan dia sangat sedih
melihat kondisi anaknya.
Saat UTS dia memperoleh nilai 80. “Bagus sekali, ibu
bangga dengan mu!” puji ku di depan kelasnya, padahal di kelas itu paling banyak
nilai 60 atau bahkan ada yang nilianya 30.
Hanya beberapa temannya yang berempati mendorongkan
kursi rodanya. Kulihat setiap kegiatan upacara, olah raga semua dia ikuti. Aku
benar-benar kagum dengan motivasi yang ada di dalam dirinya, Hari Rabu itu semua
warga sekolah senam, dipimpin oleh bapak kepala sekolah Bapak Suharnanto.
Kulihat dia juga ikut senam di atas kursi rodanya, dia ikuti semua gerakan,
kepala dan tangan, ketika berputar kursi rodanya dia putar. WOW. Kekuatan yang
ada didalam dirinya sangat luar biasa.
SMPN 226 menjadi luar biasa dimata dan hatiku. Semua
guru disini tidak ada yang berlatar belakang guru untuk ABK tetapi mereka harus
di hadapkan kepada siswa-siswa yang kebutuhannya berbeda-beda. Guru di SLB A
dia hanya mengajar anak tuna netra saja, tetapi di SMPN 226 all in paketnya ada
tuna netra, cacat fisik, tuna rungu, autis, low vision, lambat belajar..
Bukan berarti
sekolah ini menerima semua ABK, ada syaratnya karena dia akan tetap mengikuti
kurikulum sekolah reguler, materinya tidak berbeda hanya perlakuannya yang
berbeda, pencapaian ketuntasan minimal untuk mereka yang berkebutuhan khusus
tidak merupakan penentu.
Di sinilah hebatnya guru-guru SMPN 226, dia harus
bisa membuat setiap anak baik yang regular dan ABK sama-sama bisa memperoleh
materi yang diajarkan.
Ada 36 siswa satu kelas, ada 1 anak ABK , belum lagi
ada anak anak yang bukan ABK tetapi berkelakuan yang dapat mendatangkan
kemarahan bagi para guru. Anak yang seperti ini di satu kelas bisa banyak.
Terkadang anak yang bukan termasuk mereka yang berkebutuhan khusus tapi mereka
melebihi mereka yang berkebutuhan khusus.
Kebanyakan anak anak di SMPN 226 menjadikan sekolah
ini bukan pilihan pertamanya, hanya 15% saja yang menjadikan sekolah ini
pilihan pertama.
Sikap mereka tergambar dari motivasi belajar mereka
yang kurang bagus, sehingga hasil UNnya bila dibandingkan dengan sekolah negeri
di Cilandak agak berada dibawah. Mereka berfikir yang penting sekolah dapat
negeri dan gratis. Dukungan orang tua juga tidak terlalu kuat sehingga anak itu
hanya memperoleh materi di kelas dan banyak tidak dapat penguatan di rumah.
Walau ada yang sungguh-sungguh tapi tidak banyak
prosentasnya.Seharusnya tidak demikian mereka harus lebih baik, karena dengan
melihat teman-teman ABK nya yang luar biasa itu, hal ini harus dijadikan
motivasi. Mereka belum memaknai kondisi ini dengan hati. Mereka tidak tahu
bahwa usaha guru-guru disini sungguh luar biasa.
Ketika UAS, anak anak yang normal ulangan di kelas
dan anak ABK khususnya tuna netra di
tempatkan di Laboratorium IPA. Mereka
dibacakan soalnya satu persatu lalu mereka menjawab di kertas braile atau apa
saja teknisnya lalu guru yang atadi mediktekan soal akan menghitamkan jawabannya
di LJK.
Ini adalah pengalaman pertamaku. Hari itu Selasa, 8
Desember 2015 mata ulangan adalah bahasa Inggris. Aku bersama 2 guru Bahasa
Inggris lainnya ke ruang laboratorium IPA. Ketika pintu dibuka 7 anak diruang
itu menyapa nama 2 guru karena mereka sudah kenal, hanya 3 anak yang menyebut
namaku. Aku diberi soal untuk kelas 8. Aku di ajarkan bagaimana teknisnya. Soalnya
dibacakan, menulis data siswa di lembar jawaban, dan menghitamkan semua jawaban
anak itu setelah semua nomor mereka jawab. Aku membacakan semua teks dan
jawaban untuk mereka.
Aku akan membacakan soal untuk dua orang anak, yang
satu adalah yang dibacakan khususnya untuk yang tuna netra, yang satu adalah
anak yang membacakan janji siswa dan yang satunya lagi tidak terdeteksi oleh
ku, aku tidak mengajarnya, bila dilihat sepintas dia tidak seperti orang buta,
bola matanya normal, badannya tinggi besar perawakannya cukup ganteng. Aku
perkenalkan nama ku. Satu persatu soal kubacakan. Mereka menjawab di kertasnya
setelah selasai baru aku hitamkan di lembar jawaban komputer. Setelah selasai
berkali-kali siswa itu berterima kasih. Hal ini sangat baru bagiku, tentu bagi guru-guru yang telah lama di sini sudah
menjadi biasa padahal menurutku itu luar biasa. Aku yakin guru-guru di sini
adalah pilihan ALLAH semua. Agar anak-anak itu tetap kuat di sini untuk
belajar, dan katanya ada ABK yang sudah sukses. Mungkin ada bisikan atau
belaian atau ungkapan yang menjadi motivasi atau inspirasi sehingga mereka
punya mimpi dan menjemput mimpi dalam kekurangan mereka.
Ketika aku menjadi panitia ujian, satu guru meminta
izin padaku untuk membuatkan gambar yang ada pada soal matematika sehingga
anak-anak yang tuna netra bisa merabanya ketika diberi soal itu. Aku merasakan
diriku belum pernah berbuat lebih seperti yang dia lakukan. Dia telah melakukan
sejak lama supaya anak-anak itu bisa mendeskripsikan gambar yang mereka raba
dalam pikiran mereka. Hebat desahku, tidak ada perintah dari kepala sekolah
untuk melakukan apa yang akan dia lakukan, pasti hatinya yang terdalam yang
memerintahnya untuk berbuat kebaikan seperti itu.