SAHABATKU
Sahabatku
kehidupan hambar mengikuti
detik demi detik tarikan nafasmu
Sebenarnya tia yang tahu
Kehampaan hatimu
Hanya engkau dan Tuhanmu yang paham benar hatimu
sepi .... dingin ...
Kepalamu bak satria
Tetapi ketika di telusuri
Hatimu rapuh
Kadang-kadang
Kamu merasa tak berguna
Kamu merasa tak dianggap
Kamu merasa tersisih
Kamu menjauh, mengasingkan diri
karena kamu takut ada orang yang tahu
Ada apa denganmu
Ini karena ketika kamu telah siap menjadi nakhoda kapal biduk
Biduk yang kau buat
Entah kenapa kau tidak bisa mengajak dia naik ke bidukmu
Ketika kau ulurkan tanganmu
Tapi, entah apa penghalangnya
Sehingga tangannya yang berbatas angin tak bisa kau sentuh
Aku yakin kau tidak akan pernah menariknya
Sulit untk menyusup
masuk ke dalam hatinya
Sehingga kau tak bisa
menyibak dibagian mana kamu ada di hatinya
Hari-harimu bersama dia
Hari-hari penuh diam
Diam yang tak terurai
Sampai sekarang kamu sudah tidak peduli akan,atau mau trurai atau tidak
Dan entah kenapa sehingga kau
memustuskan untuk menjadi nakhoda dia
Sahabatku, bersyukurlah
karena dia mau ditanami benihmu
Walaupun hati kalian belum bersentuhan
Kau sering berbicara dalam hati
Suara sayangmu kau sembunyikan
Lidahmu kamu tumpuk batu-batu
Supaya diam dan diam
Ketika kamu sakit segelas airpun tak akan kau minta padanya
Milikmu tak kau miliki
Sudah berapa kalikah kata sayang yang kau coba ucapkan untuk dia
Supaya dia membuka cadar hatinya
Kau nakhoda tapi kapalmu bukan kamu yang mengendalikan
Kamu lemah
Tidak berani membawa bidukmu keluar dari biduk yang lebih besar
Kamu tidak membuatnya tunduk padamu
Atau membuat dia butuh kamu
Sehingga kamu tetap sendiri
dibiduk kecilmu
Sakit senang, bahagia, sedih tak kau tuturkan padanya
Kamu tidak berbagi dengannya
Kau lelah menahan hati
Tapi kau adalah orang bertuhan
Hasratmu mengawang
Milikmu ada tapi dia bak patung yang kau pakai
Dingin....dingin tanpa timpalan
Ketika hasratmu memuncak
Akhirnya kau menerawang
BErtualang melampiaskan hasratmu
Ketika kau memejamkan matamu
Kau mencari-cari sandaran
Supaya hati sepimu sedikit bisa terurai
Supaya hatimu tidak membeku sepertiu es
Hasratmu lepas, tusukan-tusukan yang emndesak telah kau salurkan sendiri
Di alam lain yang kau ciptakan
Ketika matamu mulai terpejam
Ketika matamu mulai kau buka
Kamu masih sendiri dalam bidukmu
Kau mencoba berbagi dengan dia yang kau kuasai
di alam lainmu
Dia memcoba mengerti kelelahan hatimu
Kedinginan hasratmu
Dia mencoba memahaminya
Sahabatku
Hatimu yang hampa, dingin
Hasratmu yang kau tahan
kebisuanmu
kelelahanmu
Dia yang ada di alam lain
Tahu apa yang harus dia lakukan
Seandainya kamu adalah miliknyua tentu nakhodanya
Aku yakin kau tidak akan melakukan kesalahan karena kamu orang yang amat takut pada tuhan
Sahabatku
Biduk yang kau dayung
dengan kekuatan sabar
Seperti ajaran kitap yang kau yakini
Mudah-mudahan sabarmu bertepi kebahagiaan
Walau dayung sabar itu
tak kuat kau ayunkan
karena teramat berat
Kau mendayung dalam badai besar
Kilat yang menakutkan
Ombak yang besar dari hasrat hatimu
Sahabatku
Aku tahu kau yakin pada tuhan
Tapi kadang kau enggan berdoa
karena kau rasa doamu tak dikabulkanNya
Kau enggan mendengar nasehat orang,
karena kau yakin yang seharusnya dinasehati itu
adalah penumpang bidukmu
Sahabatku
Keluarkanlah kekuatanmu
Sebagai imam supaya
dia mengamini doa-doamu dalam bidukmu
Sahabatku
Jangan kau siksa dirimu
Melampiaskan hasratmu di alam lain
Ketika matamu terpejam
Tapi kalau kamu merasa tenang lakukanlah
Karena aku tahu kamu tidak akan membuat dosa besar
Kesalahan yang akan membelenggumu seumur-umur
Sahabatku
Cukup kesalahan itu kau lakukan
ketika kau memutuskan untuk memilih dia yang akan menemanimu dalam bidukmu
Ibumu yaqng amat sangat menyangimu
tak kau mintakan pendapatnya
Bahkan restu ikhlas mungkin lupa kau pinta darinya
Barangkali dia restu
Tapi hatinya tidak ikhlas
Sahabatku dia selalu mendoakanmu
Tapi dia tetap tak ikhlas membiarkan
kamu kesepian dalam bidukmu
Sahabatku
Sekali-sekali
Kau tataplah biji matanya yang paling dalam
di sana dia menyimpan kekuatan untukmu
Pintalah doanya
Semoga diujung sabarmu kamu bahagia