Translate

Minggu, 30 November 2014

Guruku (puisi)

GURUKU
Bapak dan ibu guruku sekarang aku telah menjadi guru pula seperti kalian
Bapak dan ibu guruku mungkin diantara kalian ada yang sudah meninggalkan dunia ini
Aku tengedahkan tanganku pada Allah, kupanjatkan doa ku buat kalian
Ya tuhanku, mudahkan semua urusan mereka dalam kuburnya
Tempatkan mereka pada surgaMu
Bapak dan ibu guruku yang masih hidup, kupanjatkan doaku
Ya Allah, sehatkan Bapak dan Ibu guruku
Tak bisa ku beri apa-apa kalian sebagai bentuk terima kasihku
                Bapak dan ibu guruku, aku sekarang telah menjadi guru seperti kalian
                Ku coba membersihkan hatiku
Agar aku ikhlas mengajar muridku, seperti waktu kalian mengajarku
                Ku coba perbaiki tutur di lidahku
                Agar kata-kataku bisa menjadi nasehat untuk muridku
                Ku coba belajar dan terus belajar
                Agar apa yang ku ajarkan bisa menjadi inspirasi buat muridku
                Biar mereka untai menjadi cita-cita mereka
                Ku coba berdoa seperti yang kalian panjatkan buatku dulu
                Ya Allah semoga cita-cita muridku bisa mereka capai

                                                                Jakarta, 25 November 2014

Minggu, 23 November 2014

AKU DAN ROHKU (PUISI)

AKU DAN ROHKU
Aku  ingin sekali bertanya pada rohku, yang aku tidak tahu dibagian manakah dia dalam diriku bersemayam, seperti apa roh itu
Rohku, yang telah menyatu dengan diriku sejak aku empat bulan aku dalam perut ibuku
Rohku, aku ingin bertanya apakah perjanjian yang telah kau buat dengan pencipta kita tentang hidupku
Aku yang hanya berasal dari air yang menjijikan
Rohku, kau membuatku hidup
Rohku, kau membuat aku berwujud
Rohku, aku ingin tahu apakah takdir baik dan burukku
Rohku, aku ingin tahu kapan kau akan berpisah dengan ragaku, biarkan ku buat persiapan yang amat baik untuk berhadapan dengan pencipta kita
Rohku, jika memang kau tidak bisa memberitahukan semua itu padaku, aku hanya ingin kau membisikkan pada hatiku agar aku  selalu berbuat sesuai dengan ketentuan pencipta kita
Karena aku ingin surga sang pencipta kita dermaga akhir ku ketika aku,  kau tinggalkan

                                                                                                Jakarta, 18 November 2014

KAMU MANUSIA? TAK PANTAS DIHARGAI (PUISI)

KAMU MANUSIA? TAK PANTAS DIHARGAI
Aku seorang ibu beranak tiga yang masih kecil-kecil
Ku bimbing dua anakku
Satu kugendong dengan kain panjang yang sudah lusuh
Ku langkahkan kakiku masuk ke dalam mall besar
Banyak mata yang mengulang ingin melihatku
Karena sandal yang kupakai adalah sandal plastik yang di jual dekat stasiun kereta api di Bogor
Tas yang ketenteng juga tas dari kain bekas tempat mukena
Aku memakai baju panjang yang tidak jelas motifnya
Sementara dua anakku yang satu kupegang erat dengan tangan kananku
Yang sudah agak besar kubiarkan dia bergayut di tepi bajuku
Aku masuk ke swalayan untuk membeli susu bayiku yang ada di gendongan kainku
Kucari susu yang sudah kuberikan sejak satu tahun ini
Berkeliling kami berempat, tapi yang ku temukan ukuran kecil
Aku tahu aku diawasi
Aku bisa dikira penguntil yang akan mengambil sesuatu di swalayan itu
Ada orang yang sengaja atau tidak sengaja menabrak aku karena aku menurut dia tak pantas berada di  lorong itu karena harga susu bayi di sana tidak ada yang murah
Dia tidak meminta maaf kubiarkan saja
Ke sini nak…
Ke sini sayang
Dua anakku ku tarik ke dekatku agar mereka tak menghalangi gerobak bayi itu
Oh… dia tak sengaja melindas kakiku
Dia sedang menelpon
Kutanyakan pada pramuniaga
Susu dengan ukuran besar dengan merek ini ada di mana ???
Cari aja… cari dekat situ
Dia tidak memandangku
Lalu kutanya kasir
Jawabannya sama
Cari aja … cari aja situ
Dia sibuk melayani orang yang sedang membayar dengan kartu kredit
Mukanya ramah sekali
Teramat ramah
Tiba-tiba ada orang asing bertanya sesuatu pada kasir itu
Dia tidak bisa menjelaskan
Aku teramat mengerti pertanyaan orang itu
Kujelaskan
Orang itu berterima kasih padaku
Dia mengusap kepala bayiku
Kasir itu merubah raut mukanya padaku
Berubah ramah padaku
Susu apa tadi yang ibu mau
Kubayar belajaanku dengan uang ratusan ribu yang kuambil diantara beberapa uang ratusan ribu yang ada dalam dompet di dalam tas bekas tempat mukena yang ku tenteng
Terima kasih… aku berlalu



                                                                                                Jakarta, 19 November 2014

Selasa, 18 November 2014

IRVAN, IBU MENGENANGMU (UNGKAPAN HATI)

Irvan, ibu mengenangmu
Pagi hari Jum’at, 14 November 2014, kita masih bersalaman
Kamu masih memberikan salam dam ibu menjawab salammu
Sempat ibu pertanyakan jarimu yang dibalut perban
Kamu jawab singkat, patah kepentok meja,
Lalu ibu komentari “Hati-hati sayang, celaka bisa di mana aja” Ibu tidak tau kejadian kepentok itu di mana
Kamu berlalu, entah kamu dengar atau tidak apa yang ibu ucapkan
Ibu, dengar khabar kau pergi meninggalkan kami
Badan ibu langsung gemetar, ibu langsung ingat kamu,  
Paagi hari Senin, ketika ibu datang temanmu memberi  ibu pita hitam air mata ibu sabak di mata ibu walau tidak sampai jatuh, Oh ya ada anakku yang baru saja meninggal batinku
Selamat jalan anakku, jika ibu ada salah padamu ibu mohon maaf, kamu adalah anak ibu, jika kamu  ada salah, maaf ibu telah ibu berikan.
Mengiringi  kepergianmu yang teramat cepat, ibu hanya bisa mendoakan surga buatmu.
Ya Allah berikanlah tempat yang ter indah buat Irvan Firmansyah bin M. Firmansyah, anakku Amin.

                                                                                                                Senin malam, 17 November 2014

LAKI-LAKI SEUMUR BAPAKKU (PUISI)

LAKI-LAKI SEUMUR BAPAKKU
Dari atas bis koantas bima tujuan Tanah Abang
Bis itu berhenti tepat di lampu merah tak jauh dari mal Pondok Indah
Hampir setiap hari kulihat seorang laki-laki seumur bapakku 75 tahun
Dia memikul bangku kayu tempat duduk orang dulu atau orang di kampung untuk duduk saat mencuci
Dan di pikulannya itu aku juga melihat dia membawa kayu berigi untuk alas mencuci orang zaman dulu
Ketika lampu merah menyala, dia menjajakannya ke pintu-pintu mobil yang berhenti
Berhati-hati bapak itu membawa dagangannya takut mementok mobil mewah yang sedang berhenti
Hatiku  berbisik pada pikiranku yang sedang teringat ayahku yang mungkin pagi itu sedang sholat duha atau sedang mengaji karena ku tahu rutinitasnya jam segini apa yang dilakukannya
Bapakku tak punya uang tapi dia tidak sedang mencari uang seperti Bapak yang sedang ku lihat di lampu merah ini
Tidak punya anakkah dia
Tidak punya istrikah dia
Tidah punya…tidak punya
Apakah motivasinya menjual barang yang takkan mungkin laku di tempat ini.
Kulihat Bapak seumur Bapakku tadi sedang menepi tak ada yang membeli dagangannya
Tapi kulihat dia memegang uang wajahnya kelihatan gembira
Mungkin uang itu dia butuhkan untuk membeli makan karena mungkin dia telah beberapa lama menahan lapar.
Uang dan lapar motivasinya menjual itu desahku
Koantas bima yang dikemudi bak orang sedang mabuk berhenti lagi dilampu merah berikutnya tak sengaja ada billboard besar terpapang tak jauh dari lampu merah itu foto seorang laki-laki kurasa dia juga sudah seumur bapakkku 75 tahunan
Rambutnya hitam kelam karena baru saja dia bigen
Bibirnya tebal berminyak habis makan enak yang lupa di lap
Jidatnya botak separo
Matanya menyiratkan dia laki-laki penikmat kesenangan karena fantasia lam pikirannya wanita bertubuh bohai
Perutnya buncit entah makan enak yang ada di dalamnya, atau cacing yang telah jadi lintah
Mata cincinnya besar, Berwarna biru
Kalung dan gelang emas bak rantai anjing di leher dan tangan kanannya
Dia memaki jas dan kemeja dalamnya berwarna putih
Di ujung kemejanya mejumbul collar emas
Karpet tempat dia berdiri adalah uang kertas bernilai seratus ribu
Oh aku salah lihat dekat gelang rantai anjing  itu ternya adalah borgol
Ternyata laki-laki seumur bapakku yang ini seorang koruptur.
Oh motivasi bapak seumur Bapakku yang kedua ini  menggumpulkan uang sebanyak-banyaknya adalah perut rakus, wanita, kekuasaan dan pengakuan  desahku
Karena laki-laki seumur Bapakku yang ini sering ku lihat di televisi sebagai orang yang pejabat hebat yangterkenal.


                                                                                                                Jakarta, 18 Nov 2014

Sabtu, 01 November 2014

SAHABATKU (PUISI)

SAHABATKU

Sahabatku
kehidupan hambar mengikuti
detik demi detik tarikan nafasmu
Sebenarnya tia yang tahu
Kehampaan hatimu

Hanya engkau dan Tuhanmu yang paham benar hatimu
sepi .... dingin ...

Kepalamu bak satria
Tetapi ketika di telusuri
Hatimu rapuh

Kadang-kadang
Kamu merasa tak berguna
Kamu merasa tak dianggap
Kamu merasa tersisih
Kamu menjauh, mengasingkan diri
karena kamu takut ada orang yang tahu
Ada apa denganmu

Ini karena ketika kamu telah siap menjadi nakhoda kapal biduk
Biduk yang kau buat
Entah kenapa kau tidak bisa mengajak dia naik ke bidukmu

Ketika kau ulurkan tanganmu
Tapi, entah apa penghalangnya
Sehingga tangannya yang berbatas angin tak bisa kau sentuh
Aku yakin kau tidak akan pernah menariknya

Sulit untk menyusup
masuk ke dalam hatinya
Sehingga kau tak bisa
menyibak dibagian mana kamu ada di hatinya

Hari-harimu bersama dia
Hari-hari penuh diam
Diam yang tak terurai
Sampai sekarang kamu sudah tidak peduli akan,atau mau trurai atau tidak

Dan entah kenapa sehingga kau
memustuskan untuk menjadi nakhoda dia

Sahabatku, bersyukurlah
karena dia mau ditanami benihmu
Walaupun hati kalian belum bersentuhan

Kau sering berbicara dalam hati
Suara sayangmu kau sembunyikan
Lidahmu kamu tumpuk batu-batu
Supaya diam dan diam
Ketika kamu sakit segelas airpun tak akan kau minta padanya

Milikmu tak kau miliki
Sudah berapa kalikah kata sayang yang kau coba ucapkan untuk dia
Supaya dia membuka cadar hatinya

Kau nakhoda tapi kapalmu bukan kamu yang mengendalikan
Kamu lemah
Tidak berani membawa bidukmu keluar dari biduk yang lebih besar
Kamu tidak membuatnya tunduk padamu
Atau membuat dia butuh kamu

Sehingga kamu tetap sendiri
dibiduk kecilmu

Sakit senang, bahagia, sedih tak kau tuturkan padanya
Kamu tidak berbagi dengannya

Kau lelah menahan hati
Tapi kau adalah orang bertuhan

Hasratmu mengawang
Milikmu ada tapi dia bak patung yang kau pakai
Dingin....dingin tanpa timpalan


Ketika hasratmu memuncak
Akhirnya kau menerawang
BErtualang melampiaskan hasratmu

Ketika kau memejamkan matamu
Kau mencari-cari sandaran
Supaya hati sepimu sedikit bisa terurai
Supaya hatimu tidak membeku sepertiu es

Hasratmu lepas, tusukan-tusukan yang emndesak telah kau salurkan sendiri
Di alam lain yang kau ciptakan
Ketika matamu mulai terpejam

Ketika matamu mulai kau buka
Kamu masih sendiri dalam bidukmu

Kau mencoba berbagi dengan dia yang kau kuasai
di alam lainmu
Dia memcoba mengerti kelelahan hatimu
Kedinginan hasratmu
Dia  mencoba memahaminya

Sahabatku
Hatimu yang hampa, dingin
Hasratmu yang kau tahan
kebisuanmu
kelelahanmu

Dia yang ada di alam lain
Tahu apa yang harus dia lakukan
Seandainya kamu adalah miliknyua tentu nakhodanya
Aku yakin kau tidak akan melakukan kesalahan karena kamu orang yang amat takut pada tuhan

Sahabatku
Biduk yang kau dayung
dengan kekuatan sabar
Seperti ajaran kitap yang kau yakini
Mudah-mudahan sabarmu bertepi kebahagiaan

Walau dayung sabar itu
tak kuat kau ayunkan
karena teramat berat
Kau mendayung dalam badai besar
Kilat yang menakutkan
Ombak yang besar dari hasrat hatimu

Sahabatku
Aku tahu kau yakin pada tuhan
Tapi kadang kau enggan berdoa
karena kau rasa doamu tak dikabulkanNya
Kau enggan mendengar nasehat orang,
karena kau yakin yang seharusnya dinasehati itu
adalah penumpang bidukmu

Sahabatku
Keluarkanlah kekuatanmu
Sebagai imam supaya
dia mengamini doa-doamu dalam bidukmu

Sahabatku
Jangan kau siksa dirimu
Melampiaskan hasratmu di alam lain
Ketika matamu terpejam
Tapi kalau kamu merasa tenang lakukanlah
Karena aku tahu kamu tidak akan membuat dosa besar
Kesalahan yang akan membelenggumu seumur-umur

Sahabatku
Cukup kesalahan itu kau lakukan
ketika kau memutuskan untuk memilih dia yang akan menemanimu dalam bidukmu
Ibumu yaqng amat sangat menyangimu
tak kau mintakan pendapatnya
Bahkan restu ikhlas mungkin lupa kau pinta darinya
Barangkali dia restu
Tapi hatinya tidak ikhlas

Sahabatku dia selalu mendoakanmu
Tapi dia tetap tak ikhlas membiarkan
kamu kesepian dalam bidukmu

Sahabatku
Sekali-sekali
Kau tataplah biji matanya yang paling dalam
di sana dia menyimpan kekuatan untukmu
Pintalah doanya
Semoga diujung sabarmu kamu bahagia

TUHANKU (PUISI)

TUHAN YANG KITA LUPAKAN

Berbismillah ketika akan makan sering kita lupa
Apatalah lagi mengucapkan alhamdulillah
Bersyukur kepada tuhan dirasa sudah tak perlu

Aku kenyang karena aku makan
Aku bisa karena aku berusaha
Aku berusha karena aku sehat
Aku sehat karena aku berobat
Aku berobat karena aku punya duit
Aku punya duit karena aku kaya
Aku kaya karena aku...

Tuhan ... Tuhan rasanya tak perlu lagi
Begitulah
Merasa hebat dan paling hebat
Sombong menguasai diri dan hati
Merasa hebat padahal ada yang maha hebat

Berucap syukur sudah tak perlu
Berucap istigfar sudah tidak zaman

Yang perlu sekarang adalah
takut tak makan
takut tak cantik
takut tak moderen
takut tak gaul
takut tak kaya

Segala takut yang tak perlu ditakuti
Takut milik kerajaan setan
Bukan takut pada penciptanya setan

Maret 2007




 

LAKI-LAKI BERNAFSU (PUISI)

LAKI-LAKI BERNAFSU
Ketika badai puting beliung berhembus
dari kaki hingga kepala

Tiada kehormatan
Tiada tahta
Tiada kekuasaan
Tiada harga diri
Tiada wibawa
Tiada malu

Seperti kucing pun jadi
Seperti anjingpun jadi

Tidak takut manusia
Tidak takut hantu
Tidak takut malaikat
Dan pada tuhan pun tak takut

Angin berhembus
yang perlu pelampiasan
Laksana kaum tak beradap
Begitulah ledakan setitik air
Dari kekuatan nafsu

KECEMASAN IBU (PUISI)

KECEMASAN IBU
Anakku
Baru saja  ibu mendengar
Tetangga kita tidak punya uang untuk membeli susu anaknya
Sebenarnya dia begitu ingin menyusuinya
Tapi air susunya tidak keluar
Karena sejak dia habis melahirkan ibu dia hanya membeli sepotong tempe
Ibu tidak tahu kayaknya hanya dia taruh di panci bersamaan dengan menanak nasi
Sejak dua hari habis melahirkan dia sudah menjadi buruh cuci lagi

Anakku
Hanya air tajin yang dia berikan kepada bayinya itu
Bayinya itu menangis dan terus menangis oa.....oa terasa pilu hati mendengarkan tangisnya
Sayang ibu cemas nak
Bagaimana dengan kamu dan ibu kelak
Apakah kita akan semiskin dia

Anakku
Di rumah kontrakan berpetak-petak berdinding triplek ini
Sungguh banyak dilema hidup yang ibu dengar yang membuat ibu cemas

Oh ya anakku
Bayi kecil tadi teru menangis-dan menangis
Badannya panas
Ayahnya kabur entah kemana rimbanya
Bayi itu dibawa ke rumah sakit
Tidak ada yang peduli
Ibunya tidak punya uang jaminan
Dia menangis dan menangis
Hari keempat tangisnya berhenti bersamaan berhenti pula kehidupan buat dia

Anakku
Akhirnya bayi itu mati
Kematian yang hanya diratapi ibunya
Kalau tidak ada yang menyumbang
Kain kapanpun tak terbeli
Ibu cemas sayang akan semiskin itukah kita

Anakku
Akhirnya ibu terdiam ketika anaknya telah terkubur
Dia tidak bisa berdiri
Dan tak ada yang membantu dia
Ternyata dia pendarahan
Alirannya seperti aliran air dari tempat yang tinggi
ketempat yang rendah
Aliran itu akhirnya berhenti
Sama berhentinya seperti tangis anaknya
Diapun mati
Kematian yang hanya diketahui oleh tukang pembersih makam
Yang diselenggarakan karena itu fardu kifayah

Anakku
Ibu cemas akan semelarat itukah hidup kita


Calon anakku (Puisi)

ADA MANUSIA DALAM RAGA IBU
Calon anakku
Ibu teramat takut jauh dari Allah
Ketika benih-benih kecil ada dalam raga ibu
Ibu mimpi buruk, ada bayangan buruk
Datang bersama setan
Ibu berlari-berlari menjauh mendekati  Dia, Allah yang menciptakan ibu dan kamu
Ibu yakin dia akan melindungi ibu
Dia yang punya kuasa atas Ibu dan kamu
Ibu berlutut padanya
Ya Tuhanku
Ya pemilik diriku dan calon anak yang ada di perutku
Sempurnakan ciptaanmu
Sehatkan ciptaanmu
Jadikan ciptaanmu manusia sholeh
Jadikan ciptaanmu manusia berguna
Jadikan ciptaanmu manusia sabar
Jadikan citaanmu manusia tawakal
Segala macam doa ibu panjatkan
                Calon anakku
                Ibu teramat takut jauh dari Allah
                Hanya kepadanya ibu mengadukan resah
                Hanya kepadanya ibu mengadukan gelisah
                Hanya kepadanya ibu mengadukan takut
Terkadang ibu resag menghadapi hidup
Terkadang ibu gelisah menghadapi hidup
Terkadang ibu takut menghadapi hidup
Ternyata takut ibu amat banyak
                Ibu takut kamu lahir tak sempurna
                Ibu takut kamu tidak sehat
                Ibu takut kamu sakit
                Ibu nanti kamu celaka
                Ibu takut nanti kamu dijahati orang
                Ibu takut nanti kamu pernah berzina
                Ibu takut kamu nanti berjudi
                Ibu takut kamu jadi budak narkoba
                Ibu takut kamu tak jadi apa-apa
Calon manusia diperut ibu
Maafkan ibu berkeluh kesah padamu
Ibu tidak jadi takut karena ibu tak ingin jauh dari pencipta ibu dan kamu
Ibu yakin dia akan melindungi kita
Takut ibu ternyata buaian mimpi buruk yang ibu miliki

                                                                                                Jakarta, Agustus 2004

Laki-laki ayah anakku (Puisi)

LAKI-LAKI ITU ADALAH AYAH ANAKKU
Ibu teramat takut jauh dari Allah
Ibu teramat takjub dengan kuasanya
Ibu tidak pernah menghayalkan dia yang akan menyebar benih didiri ibu
Ibu tidak pernah tau orang itu
Tetapi Allah memberikan dia buat Ibu
Ibu ikhlas menerimanya
Karena itulah kuasa dari Allah dalam keidupan Ibu
                                                                                                                Jakarta,  April 2000

Jumat, 31 Oktober 2014

MANUSIA KECIL IBU (PUISI UNTUK ANAKKU)

MANUSIA KECIL IBU
Betapa ibu amat menyanyangimu
Bibirmu yang yang merah monyong ke depan
Sambil nafasmu kencang mencari-cari putting susu ibu
Ketika terjangkau bibir merahmu
Bergerak seakan-akan menariknya
Lalu mata kita saling bertatapan
Jemari-jemari kecilmu menggapai-gapai
Ibu beri telunjuk ibu
Gemnggamlah erat anakku
Betapa hati, jiwa dan apa saja di dalam diri ibu
Ibu tidak ingin kita terlepas
Ibu ingin ada magnet yang melekatkan kita
Ibu ingin menembus dada ibu
Agar rasa sayang ibu tidak terlepas darimu
Manusia kecil ibu
Ketika matamu terpejam
Bibirmu terlepas dari putting susu ibu.
Ibu melihat bibirmu mengecap-ngecap
Apa rasanya sayang
Enak sekalikah sayang
Seikhlas hati ibu beri buatmu


Agustus 2004

LABA LABA (PUISI UNTUK ANAKKU)

LABA-LABA
Anakku Sayang,
Amatilah seekor laba-laba yang sedang membuat jaring-jaringnya
Dia terus, terus dan terus memintal benang-benang dari tubuhnya terus tanpa henti
Walau angin, hujan, badai,
Walau gempa sekalipun merusak rumahnya, dia akan terus bergerak mengulang, mengulang,sampai benang-benang itu menjadi jaring tempat tinggalnya.
Gerakannya mengikuti tarian instink yang kita tidak paham, irama apa yang dia ikuti, dia penuh konsentrasi, lebih khusuk dari sholat dan zikirnya seorang sufi.Ketika kau cabutpun benang pintalannya itu, dia takkan marah ataupun melengos padamu, Dia kan terus memperbaikinya, sampai sempurna kembali.
Itu laba-laba anakku, dia sungguh-sungguh melakukan kerjanya, penuh konsentrasi, sampai titik akhir, tak pernah menyerah, perlu kau tiru nak.
Anak ibu sayang, tapi ibu tak ingin kau punya hati serapuh rumah laba-laba. Rumahnya rapuh sekali… rapuh sekali. Jari ibu atau mungkin hembusan nafas dari hidung ibu saja bisa menghancurkan rumahnya itu.
Jangan sayang bangunlah hati, jiwa dan ragamu tangguh, kuat supaya kau tak hancur sebelum jati dirimu yang sesungguhnya ibu lihat.


Ibu yang sayang kamu, nak
Jakarta, 8 Februati 2010

Pukul 10.53