LABA-LABA
Anakku Sayang,
Amatilah seekor laba-laba yang sedang membuat jaring-jaringnya
Dia terus, terus dan terus memintal benang-benang dari
tubuhnya terus tanpa henti
Walau angin, hujan, badai,
Walau gempa sekalipun merusak rumahnya, dia akan terus bergerak
mengulang, mengulang,sampai benang-benang itu menjadi jaring tempat tinggalnya.
Gerakannya mengikuti tarian instink yang kita tidak paham,
irama apa yang dia ikuti, dia penuh konsentrasi, lebih khusuk dari sholat dan
zikirnya seorang sufi.Ketika kau cabutpun benang pintalannya itu, dia takkan
marah ataupun melengos padamu, Dia kan terus memperbaikinya, sampai sempurna
kembali.
Itu laba-laba anakku, dia sungguh-sungguh melakukan
kerjanya, penuh konsentrasi, sampai titik akhir, tak pernah menyerah, perlu kau
tiru nak.
Anak ibu sayang, tapi ibu tak ingin kau punya hati serapuh
rumah laba-laba. Rumahnya rapuh sekali… rapuh sekali. Jari ibu atau mungkin
hembusan nafas dari hidung ibu saja bisa menghancurkan rumahnya itu.
Jangan sayang bangunlah hati, jiwa dan ragamu tangguh, kuat
supaya kau tak hancur sebelum jati dirimu yang sesungguhnya ibu lihat.
Ibu yang sayang kamu, nak
Jakarta, 8 Februati 2010
Pukul 10.53
Tidak ada komentar:
Posting Komentar